Mendidik Dengan Hati, Mengabdi Untuk Negeri

Defenisi luas tentang inklusif:

Defenisi yang luas:
Pendidikan inklusif memiliki defenisi yang luas, mengikutsertakan anak-anak yang mungkin terasingkan, misalnya yang tidak bersekolah, yang secara ekonomikurang/tidak mampu, yang memiliki hambatan geografis, yang memiliki ketunaan, dan yang memiliki kebutuhan khusus dalam hal kesehatan.
Sekolah inklusif
Sekolah inklusif berarti tiap anak punya hak atas pendidikan dengan perlakuan yang adil dan program yang sesuai dengan kebutuhannya.
Siapa yang bertanggungjawab
Setiap komunitas sekolah bertanggungjawab atas Pendidikan Inklusif, tidak hanya guru sendiri. Tindakan Inklusif baik bagi siapapun, bukan hanya bagi anak yang berkebutuhan khusus. Kepemimpinan yang kuat dan adil adalah yang terutama.
Strategi-strategi kepemimpinan : bagaimana saya dapat memakai penerapan-penerapan inklusif guna memajukan sekolah saya?
• Mengartikulasikan dengan jelas dan secara berkala pandangan anda mengenai sebuah masyarakat inklusif bagi komunitas sekolah anda.
• Memimpin pembahasan-pembahasan profesional tentang keadilan sosial, keadilan, dan Bhinneka Tunggal Ika.
• Fokus pada pencarian pemecahan masalah ketimbang melukiskan permasalahan dan alasan-alasan mengapa ini dan itu tidak bisa dilakukan.
• Menghasilkan dan memakai sumber sumber daya dengan kreatif dan efisien. Mengikutkan seluruh anggota komunitas lokal yang belum dilibatkan.
• Mendaftarkan seluruh siswa, bukan malah menolak anak-anak yang berkebutuhan khusus.
• Mendorong pengajaran yang kolaboratif sehingga guru-guru bisa saling memberikan dukungan dan berbagi pemikiran.
• Mengikutsertakan dan menghargai peran orangtua dan pemerhati.
• Menumbuhkembangkan daya tahan, motivasi, dan kegigihan dalam dri anda, guru-guru yang anda pimpin, dan murid-murid mereka.
• Melakukan tinjauan ulang secara teratur terhadap program sekolah, rencana , kebijakan dan sarana dalam pencarian cara-cara yang kreatif untuk meningkatkan pencapaian bagi semua siswa.
• Memberi penghargaan terhadap pembaharuan-pembaharuan dan pembelajaran yang berkelanjutan dan tak perlu kuatir bila terdapat kesalahan dalam prosesnya.
Sumber : Artikel Australia Indonesia Partnership.

Paradigma Baru Tentang Pendidikan Inklusif

Ketidakadilan terhadap anak penyandang cacat dalam memperoleh pendidikan masih terjadi. Terbukti , banyak perlindungan hak-hak pendidikan mereka yang dirampas. Di berbagai daerah pelosok, perhatian masyarakat masih sangat kurang terhadap nasib penyandang cacat. Orangtua menganggap bahwa anak cacat sering disembunyikan sebagai aib keluarga padahal setiap anak mempunyai potensi berbagai upaya yang dilakukan pemerintah yaitu dengan menerapkann pendidikan Inklusif maka setiap potensi anak bisa di maksimalkan.

Para praktisi pendidikan menganggap bahwa kebijakan ini sangat memberatkan sekolah umum terutama guru kelas. Karena penyandang cacat bisa sekolah bersama dengan anak normal lainnya, secara kasat mata hal ini sangat memberatkan namun menilik lebih jauh lagi bahwa setiap anak di dampingi oleh guru helper. Hal yang positif yang bisa ditanamkan sejak dini terhadap teman-temannya yang normal adalah menumbuhkan rasa kepedulian sosial, sikap empati ,saling menyayangi , mengakui berbagai perbedaan pada diri, gender, etnik, bahasa, kecacatan dan status. Pendidikan untuk berempati kepada temannya yang mengalami kecacatan fisik misalnya bisa memberikan kesadaran kepada anak yang normal untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang diberikan tuhan.

Apa itu pendidikan Inklusif ?
Pendidikan Inklusif adalah pendidikan yang ramah, lebih luas dari pendidikan formal mencakup pendidikan non formal, informal. Pendidikan ini mengakui bahwa semua anak dapat belajar. Pendidikan inklusif telah di canangkan oleh berbagai praktisi pendidikan sejak tahun 2004 di Indonesia, sejalan dengan perkembangan pendidikan yang terus berevolusi. Pemendiknas mengesahkan UU no. 70 tahun 2009 tanggal 5 oktober 2009 tentang “pendidikan Inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan / bakat istimewa”.
Dengan di sahkannya UU mengenai pendidikan Inklusif tersebut, maka setiap penyandang cacat memiliki kekuatan hukum agar bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Berbagai gerakan mengenai pendidikan Inklusif mulai gencar dilakukan oleh para praktisi pendidikan terutama bagi jurusan Pendidikan Luar Biasa di Universitas Pendidikan Indonesia yang telah di tunjuk pemerintah dalam melakukan berbagai langkah untuk membuka paradigma baru tersebut.
Ditemuinya rabu siang (28/12) Ahmad Nawawi di sela-sela kesibukannya menjadi dosen PLB UPI dan aktif di berbagai aktivitas lainnya mengaku bahwa sekarang sedang mengadakan proyek kerjasama dengan dinas PLB untuk memberikan pelatihan kepada guru umum “materi yang disampaikan misalnya saja orientasi mobilitas pada tunanetra, guru umum dilatih dengan ditutup matanya dan diberikan instruksi untuk berjalan”jawabnya . secara kasat mata, hal ini begitu mudah namun pada prakteknya begitu sulit karena diperlukan latihan secara terus menerus.
Untuk mempersiapkan guru inklusif tidaklah mudah, butuh proses, kesabaran agar pendidikan di Indonesia bisa lebih ditingkatkan lagi. Langkah awal yang dilakukan pemerintah saat ini perlu mendapatkan dukungan bersama, bukan saja praktisi pendidikan namun berbagai elemen masyarakat yang berharap Indonesia menjadi lebih baik, karena salah satu factor kemajuan suatu bangsa adalah masyarakat yang peduli dengan pendidikan.

OPTIMALISASI PENGEMBANGAN DIRI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS (ABK) DI SEKOLAH DASAR INKLUSIF MELALUI PROGRAM “TEATER BOCAH”

ABSTRAK
Karya tulis ilmiah ini akan menfokuskan pada pembangunan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus ketika dihadapkan pada sekolah inklusi yang bertemu dengan bermacam-macam siswa dengan budaya dan karakter yang berbeda karena ABK identik dengan kurang rasa percaya diri, untuk itu agar rasa percaya diri itu tumbuh dan tidak merasa minder dengan teman-teman yang non ABK dan begitu pula anak non ABK agar dapat saling berinteraksi dengan ABK maka perlu ada program tetater bocah untuk pengembangan diri mereka agar tidak selamanya minder dan dapat saling berinteraksi dengan teman sebayanya, tidak ada perbedaan yang menghalangi mereka.
Pendidikan inklusi adalah layanan pendidikan yang semaksimal mungkin mengakomodasi semua anak termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus atau anak luar biasa di sekolah atau lembaga pendidikan (diutamakan yang terdekat dengan tempat tinggal anak) bersama dengan teman-teman sebayanya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Metode Penulisan yang penulis gunakan adalah yang pertama menggunakan studi literature yakni dari kumpulan beberapa tori tentang landasan dan arti pendidikan inklusi kemudian dari beberapa teori tentang Anak Berkebutuhan Khusus beserta teori pengembangan diri dan teori tentang seni teater. Disamping teori yang mengenai hal diatas, penulis juga mencari ladasan hukum tentang pendidikan inklusif agar menunjang kekutan teori tersebut.
Program ini dilakukan setiap seminggu sekali sekaligus sebagai sarana latihan bagi anak ABK dan non ABK agar dapat terhabituasi dalam diri mereka untuk senantiasa mengaktualisasikan diri dan mengekspresikan diri tanpa adanya batasan atau stigma tertentu yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri mereka.
Berdasarkan hasil kajian baik kajian pustaka maupun kajian empiris yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan untuk semua khususnya anak berkebutuhan khusus harus menjadi paradigma serta perhatian utama bagi setiap elemen di dunia pendidikan agar tujuan dan falsafah pendidikan dapat tercapai sekaligus sebagai salah satu alternatif pencapaian pendidikan berkarakter yang berorientasi pada kehidupan masyarakat nantinya.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengacu pada Undang – Undang RI.No.20 Tahun 2003 yang berisi Pada hakekatnya Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Misi Pendidikan Nasional adalah meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan kepribadian yang bermoral serta mengacu pada tujuan Pendidikan yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa , berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertujuan.
Permendiknas Republik Indonesia No 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dan mengacu pada target ( EFA ) dakkar deklarasi Bangkok dari konferensi menteri pendidikan Asia Tenggara /UNESCO/SEAMEO, bahwa definisi yang komprehensif dari kualitas dan kesetaraan dalam pendidikan meliputi: (a) pendidikan inklusif, (b) pendidikan yang responsif gender, dan (c) lingkungan belajar yang protektif dan sehat.
Pada intinya pendidikan adalah untuk melayani semua kalangan. Tidak terkecuali yang berlatar belakang sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Akan tetapi alangkah indahnya jika ada pendidikan yang benar-benar merangkul semua kalangan tidak terpetakan untuk anak normal sendiri, anak berkebutuhan khusus sendiri, memang sewajarnya seperti itu, akan tetapi akan lebih bermakna pendidikan itu jika dalam satu gedung sekolah terdapat anak yang beragam mulai dari anak luar biasa, dan anak normal. Dengan cara seperti itu, maka semua siswa saling membutuhkan, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Misalnya anak yang normal dapat menutupi kekurangan anak yang luar biasa, begitupun sebaliknya itulah yang dinamakan pendidikan inklusif. Karena sebenarnya mereka semua mempunyai kemampuan yang luar biasa jika mampu mengelolanya.
Pengelolaan kemampuan siswa terkait juga dengan proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, jika seorang guru kurang mampu member motivasi kepada anak didiknya untuk berkembang dan maka secara tidak sengaja seorang guru tersebut sudah membunuh potensi siswanya secara perlahan. Dan begitupun sebaliknya jika seorang guru mampu memfasilitas, memotivasi siswanya untuk mengembangkan potensinya maka kekuatan potensi itu sangat luar biasa tidak terkecuali potensi yang dimiliki oleh siswa berkebutuhan khusus, karena sebenarnya mereka menyimpan potensi yang luar biasa pada dirinya dan jika memang semua anak terfasilitasi dalam satu atap maka potensi mereka tak akan berhenti berkembang.
Akan tetapi membuat sekolah inklusif itu tidak semudah membalikkan telapak tangan akan tetapi banyak hambatan dan tantangan yang berupa penolakan dari beberapa pihak misalnya dari anggapan guru mengatakan bahwa mengajar anak berkebutuhan khusus itu sulit dan merepotkan baginya. Sedangakn dari anggapan siswa sendiri yaitu merasa dirinya sempurna dan berusaha untuk menjauhi teman yang memiliki kebutuhan khusus. Terhubung lagi oleh anggapan orangtua siswa yakni merasa putra-putrinya lebih baik dan tidak boleh berkumpul atau berteman dengan ABK. Dan yang paling mengenaskan adalah ada anggapan dari masyarakat sekitar dan itu sudah merupakan image masyarakat yakni sekolah inklusi dianggap sekolah bagi anak buangan, nakal dan banyak lagi konsep negetif mewarnai lembaga tersebut.
Masih terdapat masalah lain yang dirasakan oleh ABK terutama berhubungan dengan pembangunan rasa percaya diri pada diri anak tersebut. Karya tulis ilmiah ini akan menfokuskan pada pembangunan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus ketika dihadapkan pada sekolah inklusi yang bertemu dengan bermacam-macam siswa dengan budaya dan karakter yang berbeda karena ABK identik dengan kurang rasa percaya diri, untuk itu agar rasa percaya diri itu tumbuh dan tidak merasa minder dengan teman-teman yang non ABK dan begitu pula anak non ABK agar dapat saling berinteraksi dengan ABK maka perlu ada program tetater bocah untuk pengembangan diri mereka agar tidak selamanya minder dan dapat saling berinteraksi dengan teman sebayanya, tidak ada perbedaan yang menghalangi mereka. Dengan program Teater Bocah yang mana Teater ini diperuntukkan bagi semua siswa ABK maupun non ABK di sekolah inklusi yang saling berkomunikasi melalui peran dalam teater tersebut, pemilihan peran, disesuaikan dengan karakteristik dan bakat anak tersebut. dengan begitu, maka mereka merasa dihargai satu sama lain dan diakui keberadan serta potensi yang dimilikinya, dengan itu, maka rasa percaya diri akan berkembang dengan sendirinya secara perlahan.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara menerapkan pengembangan diri ABK melalui teater bocah di sekolah dasar inklusi ?

C. Tujuan
Menerapkan dan mengembangkan program pengembangan diri ABK melalui teater bocah di sekolah dasar inklusi.

D. Manfaat
Dapat menerapkan program pengembangan diri ABK melalui teater bocah di sekolah dasar inklusi.

BAB II
TELAAH PUSTAKA

A. Landasan hukum dan Pengertian pendidikan inklusif
Kebijakan reformasi terbuka ditahun 80-an mendorong lebih banyak perhatian dari pemerintah kepada hak-hak anak cacat. Undang-undang yang dipublikasikan pada tahun 1982, menyatakan dalam artikel 45 bahwa bangsa dan masyarakat harus mengelola pekerjaan, penghidupan yang layak dan pendidikan untuk orang tunarungu, tunanetra, dan orang dengan kecacatan lain. UU pendidikan wajib 1986 memberikan mandate bahwa “semua anak yang telah mencapai usia enam tahun akan diterima disekolah dan akan menerima pendidikan wajib untuk jumlah tahun yang ditentukan”. Penerimaan siswa cacat sejak itu telah menjadi indeks kualitas nasional dari performa sekolah kabupaten. Ini kemudian dimandatkan melalui UU tentang perlindungan anak cacat dari 1990 (LPDP), bahwa semua orang cacat harus mendapatkan hak yang setara termasuk hak atas pendidikan. Artikel 3, bagian 18 dari LPDP menyatakan bahwa masyarakat dan keluarga harus memberikan pendidikan untuk anak cacat. UU ini dan peraturan 1994 tentang pendidikan untuk orang cacat dua-duanya menuntut pendidikan wajib 9 tahun untuk semua anak cacat. (Xianguang, 2006:6)
Pendidikan inklusif juga memiliki landasan hukum yang kuat. Yakni ada beberapa instrumen-instrumen Internasional yang relevan dengan Pendidikan Inklusif, pada tahun 1948 berbicara masalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, kemudian pada tahun 1989 tentang Konvensi PBB tentang Hak Anak dan pada tahun 1990 tentang Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua,dan pada tahun 1993 tentang Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat dan pada tahun 1994 tentang Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus kemudian tahun 1999 tentang Tinjauan 5 tahun Salamanca, tahun 2000 tentang Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia, Dakar, tahun 2000 tentang Tujuan Pembangunan Millenium yang berfokus pada Penurunan Angka Kemiskinan dan Pembangunan dan tahun 2001 tentang Flagship PUS tentang Pendidikan dan Kecacatan. (Stubbs,Sue:2002,14)
Memiliki pemahaman yang jelas tentang pendidikan inklusif itu penting karena tergantung pada prinsip- prinsip dan nilai-nilai yang mendasari pemahaman itu, hasilnya dapat sangat berbeda. Jika pendidikan inklusif didefinisikan secara sempit, atau didasarkan pada asumsi ‘anak sebagai masalah’ dan jika kemudian definisi tersebut digunakan untuk mengembangkan atau memonitor prakteknya, maka pendidikan inklusif akan gagalatau tidak berkesinambungan.
Definisi pendidikan inklusif juga terus-menerus berkembang sejalan dengan semakin mendalamnya renungan orang terhadap praktek yang ada, dan sejalan dengan dilaksanakannya pendidikan inklusif dalam berbagai budaya dan konteks yang semakin luas. Definisi pendidikan inklusif harus terus berkembang jika pendidikan inklusif ingin tetap menjadi jawaban yang riil dan berharga untuk mengatasi tantangan pendidikan dan hak asasi manusia.
Akhirnya, mendefinisikan pendidikan inklusif itu penting karena banyak orang masih menganggap bahwa pendidikan inklusif hanya merupakan versi lain dari PLB. Konsep utama dan asumsi yang melandasi pendidikan inklusif adalah justru dalam berbagai hal bertentangan dengan konsep dan asumsi yang melandasi ‘pendidikan luar biasa’.
“Inklusi atau Pendidikan Inklusif bukan nama lain untuk ‘pendidikan kebutuhan khusus’. Pendidikan inklusif menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi dan mencoba memecahkan kesulitan yang muncul di sekolah. pendidikan kebutuhan khusus dapat menjadi hambatan bagi perkembangan praktek inklusi di sekolah.”
Konsep pendidikan inklusif memiliki lebih banyak kesamaan dengan konsep yang melandasi gerakan ‘Pendidikan untuk Semua’ dan ‘Peningkatan mutu sekolah’. Pendidikan inklusif merupakan pergeseran dari kecemasan tentang suatu kelompok tertentu menjadi upaya yang difokuskan untuk mengatasi hambatan untuk belajar dan berpartisipasi.
Beberapa definisi Pendidikan Inklusif yang dirumuskan dalam Seminar Agra disetujui oleh 55 peserta dari 23 negara (terutama dari ‘Selatan’) pada tahun 1998. Definisi ini kemudian diadopsi dalam South African White Paper on Inclusive Education dengan hampir tidak mengalami perubahan:
Definisi Seminar Agra dan Kebijakan Afrika Selatan tentang Pendidikan Inklusif:
• Lebih luas daripada pendidikan formal: mencakup pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal.
• Mengakui bahwa semua anak dapat belajar.
• Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak.
• Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak dari segi usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan, status HIV/AIDS dll.
• Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya.
• Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat yang inklusif. (Stubbs, 2002:37)
Pengertian Inklusi merupakan pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menentang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar siswa-siswanya berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.
Pendidikan inklusi adalah layanan pendidikan yang semaksimal mungkin mengakomodasi semua anak termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus atau anak luar biasa di sekolah atau lembaga pendidikan (diutamakan yang terdekat dengan tempat tinggal anak) bersama dengan teman-teman sebayanya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.
Pendapat lain mengatakan Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang memberikan layanan kepada setiap anak tanpa terkecuali. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya. Semua anak belajar bersama-sama, baik di kelas/ sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusi adalah:
1) Pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, emosional, sosial maupun kondisi lainnya.
2) Pendidikan yang memungkinkan semua anak belajar bersama-sama tanpa memandang perbedaan yang ada pada mereka.
3) Pendidikan yang berupaya memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan kemampuannya.
4) Pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya di sekolah formal, tetapi juga di lembaga pendidikan dan tempat lainnya.

Dalam pendidikan inklusif memang tidak memandang dari segi apapaun, semua adalah sama. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan inklusif yakni dalam hal:
1. Keluarga
Orangtua peserta didik berkebutuhan khusus memegang peran penting dalam menentukan pendidikan anaknya. Keterlibatan orangtua merupakan masukan (input) penting dalam pendidikan inklusif. . Pandangan orangtua peserta didik berkebutuhan khusus-lah yang menentukan apakah anaknya akan memperoleh pendidikan secara mainstream atau ikut serta dalam pendidikan inklusif.
2. Peserta Didik
Peserta didik berkebutuhan khusus memiliki karakteristik kebutuhan khususnya masing-masing. Secara umum, aspek-aspek yang perlu dipersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan inklusif, meliputi: (a) Komunikasi dan bahasa yang meliputi : kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, kebutuhan dan kehendaknya pada orang lain; kemampuan untuk memahami orang lain serta kemampuan untuk dimengerti oleh orang lain, (b) Bantu diri adalah: kemampuan untuk lebih mandiri dalam kegiatan sehari-hari seperti membersihkan diri, makan dan minum sendiri, (c) Mobilitas dan aksesibilitas adalah: kemampuan untuk bergerak dimana kemampuan ini sangat tergantung pada kemampuan spasial (kemampuan untuk menjelajah lingkungan), dan
(d) Keterampilan sosial adalah: kemampuan untuk menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya seperti orangtua, keluarga, guru dan masyarakat.
3. Sekolah
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan oleh sekolah untuk memastikan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama dengan anak lainnya adalah : (a) Pengorganisasian kurikulum oleh sekolah (the organization of the curriculum), (b) Sifat dasar dari isi kurikulum (the nature of the curriculum content). (c) Penilaian dan pelaporan perkembangan peserta didik, dan (d) Keputusan terhadap alokasi sumber daya yang dibutuhkan (Xianguang,Peng, 2006:7)

B. Teori Pengembangan Diri dan Seni Teater
Penggunaan istilah Pengembangan Diri dalam kebijakan kurikulum memang relatif baru. Kehadirannya menarik untuk didiskusikan baik secara konseptual maupun dalam prakteknya. Jika menelaah literatur tentang teori-teori pendidikan, khususnya psikologi pendidikan, istilah pengembangan diri disini tampaknya dapat disepadankan dengan istilah pengembangan kepribadian, yang sudah lazim digunakan dan banyak dikenal. Meski sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik dengan kepribadian (personality). Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula sebagai aku, ego atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita, baik yang disadari atau pun yang tidak disadari. Aku yang disadari oleh individu biasa disebut self picture (gambaran diri), sedangkan aku yang tidak disadari disebut unconscious aspect of the self (aku tak sadar) (Nana Syaodich Sukmadinata, 2005). Menurut Freud (Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, 1993) ego atau diri merupakan eksekutif kepribadian untuk mengontrol tindakan (perilaku) dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan antara hal-hal terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.
Setiap orang memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan dirinya, ada yang realistis atau justru tidak realistis. Sejauh mana individu dapat memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-citanya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya, terutama kesehatan mentalnya. Kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan seseorang akan dirinya secara tepat dan realistis memungkinkan untuk memiliki kepribadian yang sehat. Namun, sebaliknya jika tidak tepat dan tidak realistis boleh jadi akan menimbulkan pribadi yang bermasalah. Kepercayaan akan dirinya yang berlebihan (over confidence) menyebabkan seseorang dapat bertindak kurang memperhatikan lingkungannya dan cenderung melabrak norma dan etika standar yang berlaku, serta memandang sepele orang lain. Selain itu, orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang, dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu, rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian. Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya.
Begitu pula, setiap orang memiliki sikap dan perasaan tertentu terhadap dirinya. Sikap akan diwujudkan dalam bentuk penerimaan atau penolakan akan dirinya, sedangkan perasaan dinyatakan dalam bentuk rasa senang atau tidak senang akan keadaan dirinya. Sikap terhadap dirinya berkaitan erat dengan pembentukan harga diri (penilaian diri), yang menurut Maslow merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang amat penting. Sikap dan mencintai diri yang berlebihan merupakan gejala ketidaksehatan mental, biasa disebut narcisisme. Sebaliknya, orang yang membenci dirinya secara berlebihan dapat menimbulkan masochisme.
Disamping itu, setiap orang pun memiliki cita-cita akan dirinya. Cita-cita yang tidak realistis dan berlebihan, serta sangat sulit untuk dicapai mungkin hanya akan berakhir dengan kegagalan yang pada akhirnya dapat menimbulkan frustrasi, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku salah-suai (maladjusted). Sebaliknya, orang yang kurang memiliki cita-cita tidak akan mendorong ke arah kemajuan.
Berkenaan dengan diri atau ego ini, John F. Pietrofesa (1971) mengemukakan tiga komponen tentang diri, yaitu : (1) aku ideal (ego ideal); (2) aku yang dilihat dirinya (self as seen by self); dan (3) aku yang dilihat orang lain (self as seen by others). Dalam keadaan ideal ketiga aku ini persis sama dan menunjukkan kepribadian yang sehat, sementara jika terjadi perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara ketiga aku tersebut merupakan gambaran dari ketidakutuhan dan ketidaksehatan kepribadian.
Dengan memperhatikan dasar teoritik tersebut di atas, kita bisa melihat arah dan hasil yang diharapkan dari kegiatan Pengembangan Diri di sekolah yaitu terbentuknya keyakinan, sikap, perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis, sehingga peserta didik dapat memiliki kepribadian yang sehat dan utuh.
Secara konseptual, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 kita mendapati rumusan tentang pengembangan diri, sebagai berikut :
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Berdasarkan rumusan di atas dapat diketahui bahwa Pengembangan Diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Dengan sendirinya, pelaksanaan kegiatan pengembangan diri jelas berbeda dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran. Seperti pada umumnya, kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran dilaksanakan dengan lebih mengutamakan pada kegiatan tatap muka di kelas, sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum (pembelajaran reguler), di bawah tanggung jawab guru yang berkelayakan dan memiliki kompetensi di bidangnya. Walaupun untuk hal ini dimungkinkan dan bahkan sangat disarankan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran di luar kelas guna memperdalam materi dan kompetensi yang sedang dikaji dari setiap mata pelajaran.
Sedangkan kegiatan pengembangan diri seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam reguler (jam efektif), melalui berbagai jenis kegiatan pengembangan diri. Salah satunya dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan sekolah, di bawah bimbingan pembina ekstra kurikuler terkait, baik pembina dari unsur sekolah maupun luar sekolah. Namun perlu diingat bahwa kegiatan ekstra kurikuler yang lazim diselenggarakan di sekolah, seperti: pramuka, olah raga, kesenian, PMR, kerohanian atau jenis-jenis ekstra kurikuler lainnya yang sudah terorganisir dan melembaga bukanlah satu-satunya kegiatan untuk pengembangan diri.
Di bawah bimbingan guru maupun orang lain yang memiliki kompetensi di bidangnya, kegiatan pengembangan diri dapat pula dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di luar jam efektif yang bersifat temporer, seperti mengadakan diskusi kelompok, permainan kelompok, bimbingan kelompok, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat kelompok. Selain dilakukan melalui kegiatan yang bersifat kelompok, kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan pula melalui kegiatan mandiri, misalnya seorang siswa diberi tugas untuk mengkaji buku, mengunjungi nara sumber atau mengunjungi suatu tempat tertentu untuk kepentingan pembelajaran dan pengembangan diri siswa itu sendiri.
Selain kegiatan di luar kelas, dalam hal-hal tertentu kegiatan pengembangan diri bisa saja dilakukan secara klasikal dalam jam efektif, namun seyogyanya hal ini tidak dijadikan andalan, karena bagaimana pun dalam pendekatan klasikal kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya relatif terbatasi. Hal ini tentu saja akan menjadi kurang relevan dengan tujuan dari pengembangan diri itu sendiri sebagaimana tersurat dalam rumusan tentang pengembangan diri di atas.
Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terjadi pengurangan jumlah jam efektif setiap minggunya, namun dengan adanya pengembangan diri maka sebetulnya aktivitas pembelajaran diri siswa tidaklah berkurang, siswa justru akan lebih disibukkan lagi dengan berbagai kegiatan pengembangan diri yang memang lebih bersifat ekspresif, tanpa “terkerangkeng” di dalam ruangan kelas.
Kegiatan pengembangan diri harus memperhatikan prinsip keragaman individu. Secara psikologis, setiap siswa memiliki kebutuhan, bakat dan minat serta karakateristik lainnya yang beragam. Oleh karena itu, bentuk kegiatan pengembangan diri pun seyogyanya dapat menyediakan beragam pilihan.
Hal yang fundamental dalam dalam kegiatan Pengembangan Diri bahwa pelaksanaan pengembangan diri harus terlebih dahulu diawali dengan upaya untuk mengidentifikasi kebutuhan, bakat dan minat, yang dapat dilakukan melalui teknik tes (tes kecerdasan, tes bakat, tes minat dan sebagainya) maupun non tes (skala sikap, inventori, observasi, studi dokumenter, wawancara dan sebagainya).
Dalam hal ini, peranan bimbingan dan konseling menjadi amat penting, melalui kegiatan aplikasi instrumentasi data dan himpunan data, bimbingan dan konseling seyogyanya dapat menyediakan data yang memadai tentang kebutuhan, bakat, minat serta karakteristik peserta didik lainnya. Data tersebut menjadi bahan dasar untuk penyelenggaraan Pengembangan Diri di sekolah, baik melalui kegiatan yang bersifat temporer, kegiatan ekstra kurikuler, maupun melalui layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.
Namun harus diperhatikan pula bahwa kegiatan Pengembangan Diri tidak identik dengan Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling tetap harus ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah dengan keunikan karakteristik pelayanannya.

BAB III
METODE PENULISAN
A. Kajian Pustaka
Metode Penulisan yang penulis gunakan adalah yang pertama menggunakan studi literature yakni dari kumpulan beberapa tori tentang landasan dan arti pendidikan inklusi kemudian dari beberapa teori tentang Anak Berkebutuhan Khusus beserta teori pengembangan diri dan teori tentang seni teater. Disamping teori yang mengenai hal diatas, penulis juga mencari ladasan hukum tentang pendidikan inklusif agar menunjang kekutan teori tersebut.
B. Kajian Fenomena Lapangan
Setelah mencari data di studi pustaka, selanjutnya yang penulis lakukan adalah mengkaji fenomena yang berada di lapangan khususnya di lingkungan sekolah dasar inklusi. Untuk mengetahui apa masalah yang terjadi atau apa hambatan yang selama ini dirasakan oleh sekolah dasar inklusif. Dengan seperti itu, maka akan memudahkan penulis mencari permasalahan yang dirasakan dan nantinya akan memberikan sebuah alternative solusi kepada sekolah tersebut.
C. Menentukan Permasalahan dan Alternatif Solusi
Setelah mengetahui kondisi di lapangan, khususnya di sekolah inklusif tersebut, maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan titik permasalahan yang dirasakan oleh sekolah dasar inklusif. Kemudian dari permasalahan tersebut, penulis mencoba menganalisis melalui beberapa teori yang telah ditemukan.
D. Mensintesakan Teori dengan Data
Kemudian dari permasalahan tersebut, setelah dianalisis menggunakan teori-teori yang ada maka penulis akan mencari jalan tengah pemecahan masalah yang ada sesuai dengan teori –teori yang ada kemudian di sinkronkan dengan data yang ada di lapangan, apakah solusi dari penulis sudah menjawab permasalahan yang dialami oleh sekolah dasar inklusi tersebut.
E. Kesimpulan
Dari mulai mengumpulkan teori beserta landasan hukumnya, kemudian mengkaji fenomena yang ada di lapangan, menentukan permasalahan dan mencari solusi alternatifnya kemudian di sintesakan maka akhirnya semuanya itu disimpulkan jadi satu titik pembahasan. Yang dimana pembahasan itu menyangkut inti sari dari pembuatan karya tulis ilmiah ini.
F. Saran dan Rekomendasi
Setelah ada pemecahan alternative solusi, yang nantinya alternative solusi tersebut akan diberikan kepada sekolah dasar inklusi yang memiliki masalah tentang pengembangan diri anak berkebutuhan khusus, sebelum mengimplementasikan alternative solusi ini maka ada beberapa saran yang harus dilakukan oleh sekolah agar prosedur sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penulis, setelah itu ada beberapa rekomendasi yang sebaiknaya solusi ide ini agar di implementasikan.

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

A. Prosedur pembuatan program “Teater Bocah”
Pembuatan program teater bocah ini diawali dengan penentuan naskah drama yang mempunyai karakteristik sesuai dengan lingkungan sekolahnya. Penulis tidak sampai member contoh naskah drama yang seperti apa, yang jelas dalam mempraktekkannya semua anak baik anak normal, anakl berkebutuhan khusus maupun anak berkesulitan belajar semuanya masuk dalam peran.
Setelah pembuatan naskah dramanya maka hal selanjutnya adalah penentuan peran. Penentuan peran ini juga disesuaikan dengan karakter anaknya. Dengan melihat pendidikan inklusi yang beragam anak, maka dari itu peran seorang pelatih drama harus teliti dalam menentukan peran seorang anak dalam teaternya.
Anak berkebutuhan khusus memiliki bermacam-macam jenis. Dan antara jenis satu dan jenis lainnya tidak dapat disamakan karena kebutuhan dan karakter yang berbeda. Untuk itu, dalam program teater bocah ini semua anak ABK dari jenis apapun mampu mengikuti program ini disesuaikan dengan bakat dan kemampuan nya dalam bagian apa.
Tuna rungu : Penderita tunarungu adalah mereka yang memiliki hambatan perkembangan indra pendengar. Tunarungu tidak bisa mendengar suara atau bunyi. Dikarenakan tidak mampu mendengar suara atau bunyi, kemampuan berbicara pun kadang terganggu. Sebagaimana kita tahu bahwa keterampilan berbicara seringkali dipenaruhi oleh seberapa sering orang tersebut mendengar orang lain berbicara.Akibatnya anak-anak tunarungu sekaligus memiliki hamnbatan bicara dan menjadi bisu . Untuk berkomunikasi dengan orang lain mereka mengguakan bahasa bibir atau bahasa isyarat.Sebagaimana anak tunanetra meraka memiliki potensi perkembangan yang sama dnegan ana-anak lain yang tidak memiliki hambatan perkembangan apapun.(Geniofam,2010:20)
Dengan melihat teori diatas, maka anak tunarungu diarahkan ke iringan music atau tarian yang menggunakan bahasa tubuh atau bahasa bibir. Selain itu, anak tunarungu juga lebih mudah daiarahkan ke seni pantomim (bahasa tubuh).
Tuna daksa : adalah penderita kelainan fisik,khususnya anggota Abadan, seperti tangan, kaki, atau bentuk tubuh. Penyimpangan perkembangan terjadi pada ukuran, bentuk, atau kondisi lainnya. Sebenarnya secara umum mereka memiliki peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri. Namun karena lingkungan kurang mempercayai kemampuannya, terlalu menaruh rasa iba, maka anak-anak tunadaksa sedikit memiliki hambatan psikologis, seperti tidak percaya diridan tergantung pada orang lain. Akibatnya penampilan dan keberadaan mereka di kehidupan umum kurang diperhitungkan. (Geniofam,2011: 21)
Tokoh dalam teater, karena tuna daksa ini dapat mengembangkan kemampuan intrapersonalnya melalui teater ini dengan tujuan meminimalisir konsep diri yang rendah. Dengan adanya teater ini anak tunadaksa dapat melakukan terapi okupasi.
Tuna netra : adalah orang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata yang baik,walaupun dengan memeakai kacamata,atau yang daerah penglihatannya sempit sedemikian kecil sehingga yang terbesar jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat.Tunanetra dibagi atas dua kelompok besar :
1.Buta total : Orang dikatakan buta total jika tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas.mereka tidak dapat menggunakan huruf selain huruf Braille.
2. Kurang penglihatan : Mereka yang tergolong kurang penglihatan adalah yang bila melihat sesuatu mata harus di dekatkan atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya,atau mereka yang memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan penglihatannya ,penderita kurang penglihatan menggunakan kacamata atau lensa kontak.(Geniofam,2011: 11)
Dari teori diatas maka anak berkebutuhan khusus tuna netra dapat difokuskan ke pembacaan pusi menggunakan alat bantu braile.
Tunagrahita : sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum dibawah rata-rata,yaitu IQ 84 kebawah berdasarka tes dan muncul sebelum usia 16 tahun sedangkan pengertian tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded adalah lambatnya fungsi intelektual yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes intelegensi baku dan terjadi pada masa perkembangan yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. (Geniofam,2011: 24)
Dari teori diatas maka tunagrahita dapat diarahkan sebagai pemeran teater.tokoh yang menjadi bagian dari teater tersebut.

Tunalaras : adalah anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.secara fisik
penderita tunalaras tidak mempunyai perbedaa yang mencolok daripada anak yang normal.(Geniofam,2011: 27)
Dari tori diatas maka anak yang mengalami tunalaras dapat difokoskan pada bagian pemeran yang antagonis sebagai alternatifnya.
Autis: adalah syndrome yang serig disalah pahami oleh kebanyakan orang. Anak-anak penyandang autis sering kali dianggap tidak waras,gila, dan berbahaya. Sungguh pemahaman yang tragis dan menakutkan. Dengan persepsi masyarakat yang sedemikian rupa, maka perkembangan dan keberadaan anak autis menjadi tidak diperhatikan.
Jangankan untuk sekolah, untuk berinteraksi saja anak autis sering tidak mendapatkan tempat. Begitu sulit mengubah persepsi dan penerimaan masyarakat terhadap anak autis, barangkali juga sesulit menemukan yang menjadi penyebab autis itu sendiri. Berbagai spekulasi telah disampaikan mengenai penyebab autism. Beberapa ahli menyatakan autism disebabkan oleh keturunan. Ahli lain mengatakan penyebab autis adalah pola makan dan gaya hidup. Dapat disimpulkan bahwa anak autis sebenarnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai pegangan hidupnya kelak. Hanya saja model pengembangan diri dan pendidikan bagi anak autis harus disusun dengan standar dan komposisi berbeda dengan anak kebanyakan lainnya. Hal ini menginat karakter anak autis yang berbeda dan unik.(Geniofam,2011: 28)
Dari karakternya anak autis yakni yang berbeda dan unik maka anak autis ini dapat difokuskan pada pemeran atau pemain berperan baik maupun berperan lucu disesuaikan pada karakter masing-masing anaknya.
Dengan mengimplementasikan teater dengan bagian peran seperti diatas maka meraka merasa dihargai dan merasa kepecayaan dirinya meningkat dan kemampuan bersosialisasi dengan siapapun akan jauh lebih baik.Keterlibatan anak normal dapat berfungsi sebagai stimulus positif bagi teater ini karena akan memberikan kesan bagi ABK bahwa anak normal juga sama dengan mereka yang membaur menjadi satu dalam teater ini.
Program ini dilakukan setiap seminggu sekali sekaligus sebagai sarana latihan bagi anak ABK dan non ABK agar dapat terhabituasi dalam diri mereka untuk senantiasa mengaktualisasikan diri dan mengekspresikan diri tanpa adanya batasan atau stigma tertentu yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri mereka.Program ini nantinya dipersiapkan untuk menjadi program unggulan berkarakter untuk dikompetisikan atau dapat dikirim sebagai duta sekolah untuk berbagai perlombaan antar sekolah maupun yang lebih tinggi kelak jika benar-benar dapat berjalan sesuai rencana.

BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil kajian baik kajian pustaka maupun kajian empiris yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan untuk semua khususnya anak berkebutuhan khusus harus menjadi paradigma serta perhatian utama bagi setiap elemen di dunia pendidikan agar tujuan dan falsafah pendidikan dapat tercapai sekaligus sebagai salah satu alternatif pencapaian pendidikan berkarakter yang berorientasi pada kehidupan masyarakat nantinya.Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan-pendekatan humanis untuk mewujudkannya .Program teater bocah ini merupakan terobosan untuk mendayagunakan serta memberdayakan anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mengaktualisasikan diri sekaligus mengembangkan diri melalui media drama/teater yang diharapkan dapat menjadi sarana bagi ABK untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya tanpa memandang kekurangan yang ada.
Program ini diarahkan sekaligus menjadi rekomendasi bagi sekolah dasar inklusi dengan harapan agar seluruh siswa secara tidak langsung dapat mengimplementasikan dengan baik pendidikan karakter karena antara anak ABK dan non ABK dapat terjalin komunikasi yang baik melalui interaksi dalam peran di teater.

STRATEGI PEMBELAJARAN BAGI ANAK BERKEBUTUHAN KHUSUS

Anak berkebutuhan khusus (Heward) adalah anak dengan karakteristik khusus yang berbeda dengan anak pada umumnya tanpa selalu menunjukan pada ketidakmampuan mental, emosi atau fisik. Anak dengan kebutuhan khusus adalah anak yang secara signifikan mengalami kelainan/penyimpangan (fisik, mental-intelektual, sosial, dan emosional) dalam proses pertumbuhkembangannya dibandingkan dengan anak-anak lain yang seusia sehingga memerlukan pelayanan pendidikan khusus.
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka, contohnya bagi tunanetra mereka memerlukan modifikasi teks bacaan menjadi tulisan Braille dan tunarungu berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Anak berkebutuan khusus biasanya bersekolah di Sekolah Luar Biasa (SLB) sesuai dengan kekhususannya masing-masing. SLB bagian A untuk tunanetra, SLB bagian B untuk tunarungu, SLB bagian C untuk tunagrahita, SLB bagian D untuk tunadaksa, SLB bagian E untuk tunalaras dan SLB bagian G untuk cacat ganda.

Jenis Dan Karakteristik Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus yang paling banyak mendapat perhatian guru antara lain:
a.Tunagrahita (Mental retardation)
Ada beberapa definisi dari tunagrahita, antara lain:
1. American Association on Mental Deficiency (AAMD) dalam B3PTKSM, (p. 20) mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum di bawah rata-rata (sub-average), yaitu IQ 84 ke bawah berdasarkan tes individual; yang muncul sebelum usia 16 tahun; dan menunjukkan hambatan dalam perilaku adaptif.
2. Japan League for Mentally Retarded (1992: p.22) dalam B3PTKSM (p. 20-22), mendefinisikan retardasi mental/tunagrahita ialah fungsi intelektualnya lamban, yaitu IQ 70 ke bawah berdasarkan tes intelegensi baku; kekurangan dalam perilaku adaptif; dan terjadi pada masa perkembangan, yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun.
3. The New Zealand Society for the Intellectually Handicapped menyatakan tentang tunagrahita adalah bahwa seseorang dikatakan tunagrahita apabila kecerdasannya jelas-jelas di bawah rata-rata dan berlangsung pada masa perkembangan serta terhambat dalam adaptasi tingkah laku terhadap lingkungan sosialnya.
4. Definisi tunagrahita yang dipublikasikan oleh American Association on Mental Retardation (AAMR). Di awal tahun 60-an, tunagrahita merujuk pada keterbatasan fungsi intelektual umum dan keterbatasan pada keterampilan adaptif. Keterampilan adaptif mencakup area : komunikasi, merawat diri, home living, keterampilan sosial, bermasyarakat, mengontrol diri, functional academics, waktu luang, dan kerja. Menurut definisi ini, ketunagrahitaan muncul sebelum usia 18 tahun.
5. Menurut WHO seorang tunagrahita memiliki dua hal yang esensial yaitu fungsi intelektual secara nyata di bawah rata-rata dan adanya ketidakmampuan dalam menyesuaikan diri dengan norma dan tututan yang berlaku dalam masyarakat.
Adapun cara mengidentifikasi seorang anak termasuk tunagrahita yaitu melalui beberapa indikasi sebagai berikut:
1. Penampilan fisik tidak seimbang, misalnya kepala terlalu kecil/besar,
2. Tidak dapat mengurus diri sendiri sesuai usia,
3. Perkembangan bicara/bahasa terlambat
4. Tidak ada/kurang sekali perhatiannya terhadap lingkungan (pandangan kosong),
5. Koordinasi gerakan kurang (gerakan sering tidak terkendali),
6. Sering keluar ludah (cairan) dari mulut (ngiler).

b. Tunalaras (Emotional or behavioral disorder)
• Nilai standarnya 4
Tunalaras adalah individu yang mengalami hambatan dalam mengendalikan emosi dan kontrol sosial. individu tunalaras biasanya menunjukan prilaku menyimpang yang tidak sesuai dengan norma dan aturan yang berlaku disekitarnya. Tunalaras dapat disebabkan karena faktor internal dan faktor eksternal yaitu pengaruh dari lingkungan sekitar.
Menurut Eli M. Bower (1981), anak dengan hambatan emosional atau kaelainan perilaku, apabila menunjukkan adanya satu atau lebih dari lima komponen berikut:
1. Tidak mampu belajar bukan disebabkan karena factor intelektual, sensori atau kesehatan.
2. Tidak mampu untuk melakukan hubungan baik dengan teman-teman dan guru-guru.
3. Bertingkah laku atau berperasaan tidak pada tempatnya.
4. Secara umum mereka selalu dalam keadaan pervasive dan tidak menggembirakan atau depresi.
5. Bertendensi kea rah symptoms fisik: merasa sakit atau ketakutan berkaitan dengan orang atau permasalahan di sekolah.
Anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku juga bisa diidentifikasi melalui indikasi berikut:
1. Bersikap membangkang,
2. Mudah terangsang emosinya,
3. Sering melakukan tindakan aggresif,
4. Sering bertindak melanggar norma social/norma susila/hukum.

c. Tunarungu Wicara (Communication disorder and deafness)
Tunarungu adalah individu yang memiliki hambatan dalam pendengaran baik permanen maupun tidak permanen. Klasifikasi tunarungu berdasarkan tingkat gangguan pendengaran adalah:[7]
1. Gangguan pendengaran sangat ringan(27-40dB),
2. Gangguan pendengaran ringan(41-55dB),
3. Gangguan pendengaran sedang(56-70dB),
4. Gangguan pendengaran berat(71-90dB),
5. Gangguan pendengaran ekstrim/tuli(di atas 91dB).
Karena memiliki hambatan dalam pendengaran individu tunarungu memiliki hambatan dalam berbicara sehingga mereka biasa disebut tunawicara. Cara berkomunikasi dengan individu menggunakan bahasa isyarat, untuk abjad jari telah dipatenkan secara internasional sedangkan untuk isyarat bahasa berbeda-beda di setiap negara. saat ini dibeberapa sekolah sedang dikembangkan komunikasi total yaitu cara berkomunikasi dengan melibatkan bahasa verbal, bahasa isyarat dan bahasa tubuh. Individu tunarungu cenderung kesulitan dalam memahami konsep dari sesuatu yang abstrak.
Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan pendengaran[8]:
1. Tidak mampu mendengar,
2. Terlambat perkembangan bahasa,
3. Sering menggunakan isyarat dalam berkomunikasi,
4. Kurang/tidak tanggap bila diajak bicara,
5. Ucapan kata tidak jelas,
6. Kualitas suara aneh/monoton,
7. Sering memiringkan kepala dalam usaha mendengar,
8. Banyak perhatian terhadap getaran,
9. Keluar nanah dari kedua telinga,
10. Terdapat kelainan organis telinga.
• Nilai standarnya 7.

d. Tunanetra (Partially seing and legally blind)
Tunanetra adalah individu yang memiliki hambatan dalam penglihatan. tunanetra dapat diklasifikasikan kedalam dua golongan yaitu: buta total (Blind) dan low vision. Definisi Tunanetra menurut Kaufman & Hallahan adalah individu yang memiliki lemah penglihatan atau akurasi penglihatan kurang dari 6/60 setelah dikoreksi atau tidak lagi memiliki penglihatan. Karena tunanetra memiliki keterbataan dalam indra penglihatan maka proses pembelajaran menekankan pada alat indra yang lain yaitu indra peraba dan indra pendengaran. Oleh karena itu prinsip yang harus diperhatikan dalam memberikan pengajaran kepada individu tunanetra adalah media yang digunakan harus bersifat taktual dan bersuara, contohnya adalah penggunaan tulisan braille, gambar timbul, benda model dan benda nyata. sedangkan media yang bersuara adalah tape recorder dan peranti lunak JAWS. Untuk membantu tunanetra beraktivitas di sekolah luar biasa mereka belajar mengenai Orientasi dan Mobilitas. Orientasi dan Mobilitas diantaranya mempelajari bagaimana tunanetra mengetahui tempat dan arah serta bagaimana menggunakan tongkat putih (tongkat khusus tunanetra yang terbuat dari alumunium).
Berikut identifikasi anak yang mengalami gangguan penglihatan:
1. Tidak mampu melihat,
2. Tidak mampu mengenali orang pada jarak 6 meter,
3. Kerusakan nyata pada kedua bola mata,
4. Sering meraba-raba/tersandung waktu berjalan,
5. Mengalami kesulitan mengambil benda kecil di dekatnya,
6. Bagian bola mata yang hitam berwarna keruh/besisik/kering,
7. Mata bergoyang terus.
• Nilai standarnya adalah 6, artinya bila anak mengalami minimal 6 gejala di atas, maka anak termasuk tunanetra.

e. Tunadaksa (physical disability)
Tunadaksa adalah individu yang memiliki gangguan gerak yang disebabkan oleh kelainan neuro-muskular dan struktur tulang yang bersifat bawaan, sakit atau akibat kecelakaan, termasuk celebral palsy, amputasi, polio, dan lumpuh. Tingkat gangguan pada tunadaksa adalah ringan yaitu memiliki keterbatasan dalam melakukan aktivitas fisik tetap masih dapat ditingkatkan melalui terapi, sedang yaitu memilki keterbatasan motorik dan mengalami gangguan koordinasi sensorik, berat yaitu memiliki keterbatasan total dalam gerakan fisik dan tidak mampu mengontrol gerakan fisik.
Berikut identifikasi anak yang mengalami kelainan anggota tubuh tubuh/gerak tubuh:[10]
1. Anggota gerak tubuh kaku/lemah/lumpuh,
2. Kesulitan dalam gerakan (tidak sempurna, tidak lentur/tidak terkendali),
3. Terdapat bagian anggota gerak yang tidak lengkap/tidak sempurna/lebih kecil dari biasa,
4. Terdapat cacat pada alat gerak,
5. Jari tangan kaku dan tidak dapat menggenggam,
6. Kesulitan pada saat berdiri/berjalan/duduk, dan menunjukkan sikap tubuh tidak normal,
7. Hiperaktif/tidak dapat tenang.
• Nilai standarnya 5.

f. Tunaganda (Multiple handicapped)
Menurut Johnston & Magrab, tunaganda adalah mereka yang mempunyai kelainan perkembangan mencakup kelompok yang mempunyai hambatan-hambatan perkembangan neurologis yang disebabkan oleh satu atau dua kombinasi kelainan dalam kemampuan seperti intelegensi, gerak, bahasa, atau hubungan pribadi di masyarakat.
Walker (1975) berpendapat mengenai tunaganda sebagai berikut:
1. Seseorang dengan dua hambatan yang masing-masing memerlukan layanan-layanan pendidikan khusus.
2. Seseorang dengan hambatan-hambatan ganda yang memerlukan layanan teknologi.
3. Seseorang dengan hambatan-hambatan yang memerlukan modifikasi khusus.

g. Kesulitan Belajar (Learning disabilities)
Anak dengan kesulitan belajar adalah individu yang memiliki gangguan pada satu atau lebih kemampuan dasar psikologis yang mencakup pemahaman dan penggunaan bahasa, berbicara dan menulis yang dapat memengaruhi kemampuan berfikir, membaca, berhitung, berbicara yang disebabkan karena gangguan persepsi, brain injury, disfungsi minimal otak, dislexia, dan afasia perkembangan. individu kesulitan belajar memiliki IQ rata-rata atau diatas rata-rata, mengalami gangguan motorik persepsi-motorik, gangguan koordinasi gerak, gangguan orientasi arah dan ruang dan keterlambatan perkembangan konsep.
Berikut adalah karakteristik anak yang mengalami kesulitan belajar dalam membaca, menulis dan berhitung:
1. Anak yang mengalami kesulitan membaca (disleksia)
2. Perkembangan kemampuan membaca terlambat,
3. Kemampuan memahami isi bacaan rendah,
4. Kalau membaca sering banyak kesalahan
• Nilai standarnya 3.
1. Anak yang mengalami kesulitan menulis (disgrafia)
2. Kalau menyalin tulisan sering terlambat selesai,
3. Sering salah menulis huruf b dengan p, p dengan q, v dengan u, 2 dengan 5, 6 dengan 9, dan sebagainya,
4. Hasil tulisannya jelek dan tidak terbaca,
5. Tulisannya banyak salah/terbalik/huruf hilang,
6. Sulit menulis dengan lurus pada kertas tak bergaris.
• Nilai standarnya 4.
1. Anak yang mengalami kesulitan berhitung (diskalkula)
2. Sulit membedakan tanda-tanda: +, -, x, :, >, <, =
3. Sulit mengoperasikan hitungan/bilangan,
4. Sering salah membilang dengan urut,
5. Sering salah membedakan angka 9 dengan 6; 17 dengan 71, 2 dengan 5, 3 dengan 8, dan sebagainya,
6. Sulit membedakan bangun-bangun geometri.
• Nilai standarnya 4.

h. Anak Berbakat (Giftedness and special talents)
Menurut Milgram, R.M (1991:10), anak berbakat adalah mereka yang mempunyai skor IQ 140 atau lebih diukur dengan instrument Stanford Binet (Terman, 1925), mempunyai kreativitas tinggi (Guilford, 1956), kemampuan memimpin dan kemampuan dalam seni drama, seni tari dan seni rupa (Marlan, 1972).
Anak berbakat mempunyai empat kategori, sebagai berikut:
1. Mempunyai kemampuan intelektual atau intelegensi yang menyeluruh, mengacu pada kemampuan berpikir secara abstrak dan mampu memecahkan masalah secara sistematis dan masuk akal.
2. Kemampuan intelektual khusus, mengacu pada kemampuan yang berbeda dalam matematika, bahasa asing, music, atau ilmu pengetahuan alam.
3. Berpikir kreatif atau berpikir murni menyeluruh. Pada umumnya mampu berpikir untuk menyelesaikan masalah yang tidak umum dan memerlukan pemikiran tinggi.
4. Mempunyai bakat kreatif khusus, bersifat orisinil dan berbeda dengan yang lain.
Dari keempat kategori di atas, maka anak berbakat adalah mereka yang mempunyai kemampuan-kemampuan yang unggul dalam segi intelektual, teknik, estetika, social, fisik (Freemen, J. 1975:120), akademik, psikomotor dan psikososial (Sisk,1987 dalam Amin, M. 1996:3).
Berikut identifikasi anak berbakat atau anak yang memilki kecerdasan dan kemampuan yang luar biasa[12]:
1. Membaca pada usia lebih muda,
2. Membaca lebih cepat dan lebih banyak,
3. Memiliki perbendaharaan kata yang luas,
1. Mempunyai rasa ingin tahu yang kuat,
2. Mempunayi minat yang luas, juga terhadap masalah orang dewasa,
4. Mempunyai inisiatif dan dapat berkeja sendiri,
5. Menunjukkan keaslian (orisinalitas) dalam ungkapan verbal,
1. Memberi jawaban-jawaban yang baik,
6. Dapat memberikan banyak gagasan,
7. Luwes dalam berpikir,
1. Terbuka terhadap rangsangan-rangsangan dari lingkungan,
8. Mempunyai pengamatan yang tajam,
m. Dapat berkonsentrasi untuk jangka waktu panjang, terutama terhadap
1. tugas atau bidang yang diminati,
2. Berpikir kritis, juga terhadap diri sendiri,
1. Senang mencoba hal-hal baru,
2. Mempunyai daya abstraksi, konseptualisasi, dan sintesis yang tinggi,
3. Senang terhadap kegiatan intelektual dan pemecahan masalah,
3. Cepat menangkap hubungan sebabakibat,
4. Berperilaku terarah pada tujuan,
5. Mempunyai daya imajinasi yang kuat,
1. Mempunyai banyak kegemaran (hobi),
w. Mempunyai daya ingat yang kuat,
1. Tidak cepat puas dengan prestasinya,
2. Peka (sensitif) serta menggunakan firasat (intuisi),
3. Menginginkan kebebasan dalam gerakan dan tindakan.
4. i. Anak Autistik
• Nilai standarnya 18.
Autism Syndrome merupakan kelainan yang disebabkan adanya hambatan pada ketidakmampuan berbahasa yang diakibatkan oleh kerusakan pada otak. Gejala-gejala autism menurut Delay & Deinaker (1952) dan Marholin & Philips (1976) antara lain:
1. Senang tidur bermalas-malasan atau duduk menyendiri dengan tampang acuh, muka pucat, dan mata sayu dan selalu memandang ke bawah.
2. Selalu diam sepanjang waktu.
3. Jika ada pertanyaan terhadapnya, jawabannya sangat pelan dengan nada monoton, kemudian dengan suara yang aneh akan menceritakan dirinya dengan beberapa kata kemudian diam menyendiri lagi.
4. Tidak pernah bertanya, tidak menunjukkan rasa takut dan tidak menyenangi sekelilingnya.
5. Tidak tampak ceria.
6. Tidak peduli terhadap lingkungannya, kecuali terhadap benda yang disukainya.
Secara umum anak autis mengalami kelainan dalam berbicara, kelainan fungsi saraf dan intelektual, Hal tersebut dapat terlihat dengan adanya keganjilan perilaku dan ketidakmampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.
1. j. Hyperactive (Attention Deficit Disorder with Hyperactive)
Hyperactive bukan merupakan penyakit tetapi suatu gejala atau symptoms. (Batshaw & Perret, 1986: 261).symptoms terjadi disebabkan oleh factor-faktor brain damage, an emotional disturbance, a hearing deficit or mental retardaction. Dewasa ini banyak kalangan medis masih menyebut anak hiperaktif dengan istilah attention deficit disorder (ADHD) (Solek, P. 2004:4)
1. 3. Strategi Pembelajaran Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.
Untuk menangani ABK tersebut dalam setting pendidikan inklusif di Indonesia, tentu memerlukan strategi khusus. Pendidikan inklusi mempunyai pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa: sekolah inklusi[13] adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menantang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa, maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar anak-anak berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima, menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya, maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi. Selanjutnya, Staub dan Peck (1995) menyatakan bahwa: pendidikan inklusi[14] adalah penempatan anak berkelainan tingkat ringan, sedang, dan berat secara penuh di kelas reguler. Hal ini menunjukkan bahwa kelas reguler merupakan tempat belajar yang relevan bagi anak berkelainan, apapun jenis kelainannya dan bagaimanapun gradasinya. Sementara itu, Sapon-Shevin (O’Neil, 1995) menyatakan bahwa pendidikan inklusi sebagai sistem layanan pendidikan yang mempersyaratkan agar semua anak berkelainan dilayani di sekolah-sekolah terdekat, di kelas reguler bersama-sama teman seusianya. Oleh karena itu, ditekankan adanya perombakan sekolah, sehingga menjadi komunitas yang mendukung pemenuhan kebutuhan khusus setiap anak, sehingga sumber belajar menjadi memadai dan mendapat dukungan dari semua pihak, yaitu para siswa, guru, orang tua, dan masyarakat sekitarnya.
Melalui pendidikan inklusi, anak berkelainan dididik bersama-sama anak lainnya (normal) untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya (Freiberg, 1995). Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa di dalam masyarakat terdapat anak normal dan anak berkelainan yang tidak dapat dipisahkan sebagai suatu komunitas.
Dalam hal ini, ada empat strategi pokok yang diterapkan pemerintah, yaitu: peraturan perundang-undangan yang menyatakan jaminan kepada setiap warga negara Indonesia (termasuk ABK temporer dan permanen) untuk memperoleh pelayanan pendidikan, memasukkan aspek fleksibilitas dan aksesibilitas ke dalam sistem pendidikan pada jalur formal, nonformal, dan informal. Selain itu, menerapkan pendidikan berbasis teknologi informasi dan komunikasi (TIK) dan mengoptimalkan peranan guru.
Di bawah ini beberapa strategi pembelajaran bagi anak berkebutuhan khusus:
1. 1. Strategi pembelajaran bagi anak tunanetra
Strategi pembelajaran pada dasarnya adalah pendayagunaan secara tepat dan optimal dari semua komponen yang terlibat dalam proses pembelajaran yang meliputi tujuan, materi pelajaran, media, metode, siswa, guru, lingkungan belajar dan evaluasi sehingga proses pembelajaran berjalan dengan efektif dan efesien. Beberapa hal yang dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan strategi pembelajaran , antara lain:
1. Berdasarkan pengolahan pesan terdapat dua strategi yaitu strategi pembelajaran deduktif dan induktf.
2. Berdasarkan pihak pengolah pesan yaitu strategi pembelajaran ekspositorik dan heuristic.
3. Berdasarkan pengaturan guru yaitu strategi pembelajaran dengan seorang guru dan beregu.
4. Berdasarkan jumlah siswa yaitu strategi klasikal, kelompok kecil dan individual.
5. Beradsarkan interaksi guru dan siswa yaitu strategi tatap muka, dan melalui media.
Selain strategi yang telah disebutkan di atas, ada strategi lain yang dapat diterapkan yaitu strategi individualisasi, kooperatif dan modifikasi perilaku.
1. 2. Strategi pembelajaran bagi anak berbakat
Strategi pembelajaran yang sesuai denagan kebutuhan anak berbakat akan mendorong anak tersebut untuk berprestasi. Hal-hal yang harus diperhatikan dalam meneentukan strategi pembelajaran adalah :
1. Pembelajaran harus diwarnai dengan kecepatan dan tingkat kompleksitas.
2. Tidak hanya mengembangkan kecerdasan intelektual semata tetapi juga mengembangkan kecerdasan emosional.
3. Berorientasi pada modifikasi proses, content dan produk.
Model-model layanan yang bias diberikan pada anak berbakat yaitu model layanan perkembangan kognitif-afektif, nilai, moral, kreativitas dan bidang khusus.
1. 3. Strategi pembelajaran bagi anak tunagrahita
Strtegi pembelajaran anak tunagrahita ringan yang belajar di sekolah umum akan berbeda dengan strategi anak tunagrahita yang belajar di sekolah luar biasa. Strategi yang dapat digunakan dalam mengajar anak tunagrahita antara lain;
1. Strategi pembelajaran yang diindividualisasikan
2. Strategi kooperatif
3. Strategi modifikasi tingkah laku
1. 4. Strategi pembelajaran bagi anak tunadaksa
Strategi yang bias diterapkan bagi anak tunadaksa yaitu melalui pengorganisasian tempat pendidikan, sebagai berikut:
1. Pendidikan integrasi (terpadu)
2. Pendidikan segresi (terpisah)
3. Penataan lingkungan belajar
4. 5. Strategi pembelajaran bagi anak tunalaras
Untuk memberikan layanan kepada anak tunalaras, Kauffman (1985) mengemukakan model-model pendekatan sebagai berikut;
1. Model biogenetic
2. Model behavioral/tingkah laku
3. Model psikodinamika
4. Model ekologis
5. 6. Strategi pembelajaran bagi anak dengan kesulitan belajar
1. Anak berkesulitan belajar membaca yaitu melalui program delivery dan remedial teaching
2. Anak berkesulitan belajar menulis yaitu melalui remedial sesuai dengan tingkat kesalahan.
3. Anak berkesulitan belajar berhitung yaitu melalui program remidi yang sistematis sesuai dengan urutan dari tingkat konkret, semi konkret dan tingkat abstrak.
6. 7. Strategi pembelajaran bagi anak tunarungu
Strategi yang biasa digunakan untuk anak tunarungu antara lain: strategi deduktif, induktif, heuristic, ekspositorik, klasikal, kelompok, individual, kooperatif dan modifikasi perilaku.
1. C. KESIMPULAN
Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) merupakan istilah lain untuk menggantikan kata “Anak Luar Biasa (ALB)” yang menandakan adanya kelainan khusus. Anak berkebutuhan khusus mempunyai karakteristik yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Karena karakteristik dan hambatan yang dimilki, ABK memerlukan bentuk pelayanan pendidikan khusus yang disesuaikan dengan kemampuan dan potensi mereka.
Anak berkebutuhan khusus (ABK) ini ada dua kelompok, yaitu: ABK temporer (sementara) dan permanen (tetap). Adapun yang termasuk kategori ABK temporer meliputi: anak-anak yang berada di lapisan strata sosial ekonomi yang paling bawah, anak-anak jalanan (anjal), anak-anak korban bencana alam, anak-anak di daerah perbatasan dan di pulau terpencil, serta anak-anak yang menjadi korban HIV-AIDS. Sedangkan yang termasuk kategori ABK permanen adalah anak-anak tunanetra, tunarungu, tunagrahita, tunadaksa, tunalaras, Autis, ADHD (Attention Deficiency and Hiperactivity Disorders), Anak Berkesulitan Belajar, Anak berbakat dan sangat cerdas (Gifted), dan lain-lain.

PENDIDIKAN TERPADU MENUJU PENDIDIKAN INKLUSI

Kebijakan pemerintah dalam penuntasan wajib belajar pendidikan dasar sembilan tahun. Disemangati oleh seruan International Education For All (EFA) yang dikumandangkan UNESCO, sebagai kesepakatan global. Hasil Word Education Forum di Dakkar, Senegal tahun 2000. Dengan semangat dan jiwa Pasal 31 UUd 1945 tentang hak setiap warga Negara untuk memperoleh pendidikan dan Pasal 32 UUSPN No 20 Tahun 2003 tentang Pendidikan dan Layanan khusus.
Sedangkan pemerataan kesempatan belajar bagi anak berkebutuhan khusus dilandasi pernyataan Salamanca tahun 1994.Melalui pendidikan inklusi ini diharapkan sekolah-sekolah regule dapat melayani semua anak terutama anak-anak yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus.Di Indonesia melalui SK Mendiknas No. 002 /u /1986 telah terintis pengembangan sekolah regular yang melayani penuntasan wajib belajar bagi anak berkebutuhan khusus.
Anak Berkebutuhan khusus adalah: Anak yang dalam proses pertumbuhan atau perkembangannya secara signifikan (bermakna) mengalami kelainan atau penyimpangan baik itu dari segi fisik, mental-intelektual, social dan emosional di banding dengan anak lain seusianya sehingga mereka memerlukan pelayanan pendidikan secara khusus.
Sekolah merupakan suatu wadah atau tempat bagi setiap anak belajar secara formal untuk mendapatkan layanan pendidikan sebagai bekal bagi mereka dalam menghadapi masa depannya.setiap anak menginginkan mereka dapat diterima dan menjadi bagian dari komunitas sekolah baik itu di kelas, dengan guru, dan teman sebaya. Penerimaan yang baik dilingkungan sekolah akan membantu anak untuk dapat bersosialisasi dalam lingkungan yang lebih luas yakni dalam lingkungan masyarakat. Hal ini juga berlaku pada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.
Dewasa ini sebagian anak yang berkebutuhan khusus sudah ada yang mengikuti pendidikan di sekolah regular,namun karena ketiadaan pelayan khusus bagi mereka,akibatnya mereka berpotensi tinggal kelas yang pada akhirnya akan putus sekolah.Akibat lebih lanjut program wajib belajar pendidikan 9 tahun akan sulit tercapai.Untuk itu perlu dilakukan terobosan dengan memberikan kesempatan dan peluang kepada anak berkebutuhan khusus untuk memperolah pendidikan di sekolah regular yang disebut dengan istilah “pendidikan terpadu menuju pendidikan inklusi”.
Pendidikan terpadu saat ini diarahkan menuju Pendidikan Inklusif sebagai wadah yang ideal yang diharapkan dapat mengakomodasikan pendidikan bagi semua anak terutama anak-anak yang memiliki kebutuhan pendidikan khusus, yang selama ini masih belum terpenuhi haknya untuk memperoleh pendidikan layaknya anak-anak lain. Sebagai wadah yang ideal, Pendidikan Inklusif memiliki 4 karaktristik makna yaitu :
Pendidikan inklusif adalah proses yang berjalan terus dalam usahanya menemukan cara-cara merespon keragaman anak. Pendidikan inklusif berarti memperdulikan cara-cara untuk meruntuhkan hambatan-hambatan dalam anak belajar. Pendidikan Inklusif membawa makna bahwa anak kecil yang hadir (disekolah) berpartisipasi dan mendapatkan hasil yang bermakna dalam hidupnya. Pendidikan inklusif diperuntukkan utamanya bagi anak-anak yang tergolong marginal,eksklusif,dan membutuhkan pelayan pendidikan khusus dalam belajar.

Sekolah Inklusi: Jawaban Pendidikan Untuk Semua…

Hari itu masih pagi. Ada sepasang anak kembar, berwajah sangat manis. Yang satunya terlihat diam, sambil memandang lurus kedepan. Sedangkan yang satunya, tak bisa diam dan selalu menarik – narik kerudung sang bunda dan pengasuhnya.
Sepintas tak ada yang aneh dari pemandangan itu. Namun setelah diperhatikan dengan seksama, ada yang “menarik” dari kedua bocah ini. Wajah manis mereka tak mampu menutupi tingkah polah mereka yang diluar kebiasaan anak pada umumnya. Bocah yang terlihat kalem tersebut tak pernah peduli dengan sekelilingnya. Padahal banyak orang yang merasa gemas dengannya. Sedangkan yang kembarannya, walaupun terlihat agresif namun hanya tertarik pada satu hal. Dia hanya tertarik pada rambut. Jadi jangan berani mendekat jika tak pakai jilbab atau kerudung pasti akan dikejar untuk sekedar dipegang rambut anda. Saya yang penasaran mencoba untuk mendekat. Setelah saya berbicara dan mendapatkan sedikit informasi dari sang bunda, kedua anak tersebut adalah anak – anak autis.
Itu adalah hari pertama mereka masuk sekolah. Di sebuah sekolah yang bukan sekolah luar biasa, tapi sekolah biasa dengan kurikulum standar. Namun sekolah ini, telah memantapkan diri untuk menerima semua “jenis” anak, apapun kondisinya. Karena setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan. Siapapun dia. Inilah yang mungkin dinamakan sekolah inklusi.
Sekolah inklusi memang tengah bergerak progresif. Walaupun pada saat ini baru terdapat 624 sekolah Inklusi di seluruh Indonesai, dari tingkat SD hingga SMA. Pada awalnya, dikarenakan begitu sulitnya dan terbatasnya mencari sekolah untuk anak – anak berkebutuhan khusus atau cacat, muncul ide untuk menerima mereka di sekolah biasa dengan program khusus. Artinya mereka dapat mengikuti kelas biasa, namun disisi lain merekapun harus mengikuti program khusus sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas mereka. Kurikulumpun mereka mengikuti kurikulum biasa, namun dengan implementasi yang “terpotong – potong”.
Namun demikian, sekolah inklusi tidaklah hanya sebatas untuk memberi kesempatan kepada anak – anak berkebutuhan khusus untuk menikmati pendidikan yang sama, namun hak berpendidikan juga untuk anak – anak lain yang kurang beruntung, misalnya anak dengan HIV/AIDS, anak – anak jalananan, anak yang tidak mampu (fakir – miskin), anak – anak korban perkosaan, korban perang dan lainnya, tanpa melihat agama, ras dan bahasanya.
Pendidikkan inklusi memang tengah bergerak, namun masih banyak ditemukan kendala untuk melaksanakannya. Dari fasilitas yang terbatas, misalnya fasilitas program khusus, seperti ruang terapi, alat terapi, maupun sumber daya manusia yang kapabel. Dilain pihak sekolah inklusi masih asing didengar oleh sebagia masyarakat kita. Bahkan tak jarang ada orang tua yang keberatan anaknya disatukan dalam satu kelas dengan anak berkebutuhan khusus, karena takut anaknya tertular.
Sekolah inklusi adalah sebuah metamorfosa budaya manusia yang semakin moderen dan menglobal. Bahwa setiap manusia adalah sama, punya hak yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan pendidikan demi mengejar kehidupannya yang lebih baik. Tanpa melihat apakah warna kulitnya, rasnya, agama, maupun bawaan genetiknya, setiap orang berhak untuk sejajar dalam berkependidikan. Saya kira sekolah inklusi merupakan salah satu jawaban, bahwa pendidikan tak mengenal diskriminasi, bahwa semua berhak untuk mendapatkannya.
Walaupun demikian sampai saat ini, sekolah inklusi masih identik dengan mencampur anak berkebutuhan khusus dengan anak biasa. Padahal sekolah bisa disebut inklusi, jika kita dapat melihat anak secara individual dengan pendekatan individual, bukan klasikal. Saat ini, pendidikan kita masih melihat peserta didik dengan satu kaca mata, semua anak adalah sama. Padahal, setiap anak terlahir dengan membawa perbedaan dan keunikannya masing – masing. Artinya, setiap anak harus diberi ruang dan hak untuk berkembang sesuai dengan kapasitas yang dibawanya. Sekilas saya bisa melihatnya, bahwa sekolah inklusipun bisa bersesuaian dengan pendekatan multiple intelegences. Sebuah pendekatan pembelajaran yang sedang banyak dikembangkan pula.
Saya berharap banyak tumbuh sekolah inklusi tanpa harus terbeban dengan segala defenisinya. Sekolah inklusi merupakan sebuah prinsip persamaan hak manusia, dan juga jawaban dari perb

Kepemimpinan Inklusif

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan industri jasa yang sangat pesat menyebabkan persaingan bisnis jasa menjadi sangat tajam, baik dipasar domestik (nasional) maupun di pasar internasional/global. Untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya, yaitu dengan menghasilkan kualitas pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan. Salah satu contoh yang akan dibahas pada makalah ini adalah industri jasa non profit yakni di dunia pendidikan. Dunia pendidikan pasti membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengelola organisasi pendidikan ini dengan baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat membawa nilai-nilai positif kedalam organisasinya, dan berusaha menanamkan nilai-nilai positif itu pada setiap anggotanya. Dan pemimpin dikatakan berhasil mengelola organisasinya, ketika para anggotanya telah paham dan melaksanakan nilai-nilai positif itu serta menanamkan pada dunia kerja. Secara tidak langsung, pemimpin yang demikian merupakan pemimpin yang telah menerapkan teori kepemimpinan transformasional.
Kepemimpinan transformasional dapat diterapkan di organisasi manapun, dan sebagian besar organisasi membutuhkan seorang pemimpin yang transformatif. Normalnya, kepemimpinan transformatif diterapkan di setiap jenjang sekolah umum. Akan tetapi jika kepemimpinan transformasional diterapkan pada sekolah inklusif. Yakni sekolah yang mengintegrasikan anak dan remaja yang menyandang kecacatan fisik, sensori, atau intelektual kedalam sekolah reguler, atau hanya akses bagi anak yang terkucilkan. Inklusi merupakan sebuah proses dua arah untuk meningkatkan partisipasi para siswa dalam belajar dan mengidentifiksi serta mengurangi hambatan belajar (Astuti, Idayu: 2011; 8). Sehingga sekolah inklusif dapat dikatakan sekolah inklusif merupakan sekolah yang unik, beragam, dan penuh dengan pelajaran hidup dan belajar untuk saling asah, asih dan asuh antar teman sejawat. Keadaan yang beragam seperti itu tidak mudah untuk mengkondisikannya.
Kondisi yang sangat beragam seperti itu, pastinya membutuhkan sosok seorang pemimpin yang luar biasa dalam mengkondisikan sekolahnya. Untuk itu, yang kami bahas pada makalah ini adalah menerapkan kepemimpinan transformasional pada sekolah inklusif yang memiliki keunikan didalamya yakni beragam karakter, kemampuan, dan beragam latar belakang pula. Dan tipe pemimpin transformasional seberapa efektif jika diterapkan pada sekolah inklusif. Apakah justru semakin tidak efektif jika sekolah inklusif diterapkan tipe kepemimpinan yang transformatif.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk membuat sebuah karya ilmiah dengan judul yakni : “OPTIMALISASI PENERAPAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH PADA SEKOLAH INKLUSIF”.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Kepemimpinan Transformasional?
2. Bagaimana cara menerapkan Kepemimpinan Transformasional di Sekolah Inklusif yang efektif?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui deskripsi tentang Kepemimpinan Transformasional.
2. Untuk mengetahui penerapkan Kepemimpinan Transformasional di Sekolah Inklusif yang efektif?

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat bagi Kepala Sekolah Inklusif yakni dapat menerapkan kepemimpinan transformasional yang sesuai dengan kondisi sekolah tersebut.
2. Manfaat bagi guru dan siswa yakni mereka dapat merasakan efektifitas kepemimpinan yang tansformasional dan semakin mereka antusias dengan apa yang diharapkan pemimpin atau kepala sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan Transformasional
Secara umum definisi kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut. “Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan” (Rosmiati, Taty: 2009; 125). Kepemimpinan merupakan sumbangan dari sesorang di dalam situasi-situasi kerjasama. Kepemimpinan dan kelompok adalah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Tak ada kelompok, tanpa adanya kepemimpinan, dan sebaliknya kepemimpinan hanya ada dalam situasi interaksi kelompok. Seseorang tidak dapat dikatakan pemimpin jika ia berada di luar kelompok, ia harus berada di dalam suatu kelompok dimana ia memainkan peranan-peranan dan kegiatan-kegiatan kepemimpinannya.
Menurut Ralp M. Stogdill dalam Dadang Suhardan 2009, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan. Sedangkan menurut Sondang P. Siagian, Kepemimpinan merupakan motor atau daya penggerak daripada semua sumber, dan alat yang tersedia bagi suatu organisasi (Suhardan; 2009: 125).
Secara garis besar, dapat disimpulkan kepemimpinan yakni Suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya agar dapat bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan kondisi-kondisi obyektif yang dialami pendidikan kita saat ini, maka tantangan utama yang dihadapi dari segi kepemimpinan adalah menciptakan pemimpin pada setiap level masyarakat yang mampu mengantar pendidikan ini keluar dari permasalahan klasik, dimana masih banyaknya pendidikan yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat, dan yang paling terpenting, semuanya kembali lagi pada manajemen pemimpinnya, karena pemimpin lah yang memegang kendali dari pendidikan. Dalam hal ini adalah kepemimpinan yang berada di sekolah yakni dipegang oleh seorang kepala sekolah.
Pendidikan membutuhkan perubahan atau sekurang-kurangnya kondisi yang memungkinkan perubahan itu terjadi. Dalam konteks pendidikan yang mendambakan perubahan yang bersifat fundamental menuju pada kemajuan yang diperlukan adalah kepemimpinan transformasional (transformational leadership).
Konsepsi kepemimpinan transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan transformasional, Bernard Bass (Stone et al, 2004) mengatakan sebagai berikut: “Transformational leaders transform the personal values of followers to support the vision and goals of the organization by fostering an environment where relationships can be formed and by establishing a climate of trust in which visions can be shared”. Selanjutnya, secara operasional Bernard Bass (Gill et al, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: “Leadership and performance beyond expectations”. Sedangkan Tracy and Hinkin (Gill dkk, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: “The process of influencing major changes in the attitudes and assumptions of organization members and building commitment for the organization’s mission or objectives”. (http://bangka.tribunnews.com diakses tanggal 27 Mei 2012).
Menurut Covey, 1989 (Peters, 1992), (Suhardan, 2009: 151), Pemimpin transformasional sesungguhnya merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Fungsi utamanya adalah berperan sebagai katalis perubahan, bukannya sebagai pengontrol perubahan. Seorang pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistic tentang bagaiman organisasi dimasa depan ketika semua tujuan dan sasarannya telah tercapai.
Sergeovanni, 1990: 21 (Suhardan, 2009: 152) berargumentasi bahwa makna simbolis dari tindakan seorang pemimpin transformasional adalah lebih penting dari tindakan aktual. Nilai-nilai yang dijunjung oleh pemimpin yang terpenting adalah segalanya. Artinya, ia menjadi model dari nilai-nilai tersebut, mentransformasikan nilai organisasi jika perlu untuk membantu mewujudkan visi organisasi. Elemen yang paling utama dari karakteristik seorang pemimpin transformasional adalah dia harus memiliki hasrat kuat untuk mencapai tujuan organisasi. Seorang pemimpin transformasional adalah seorang pemimpin yang memiliki keahlian diagnosis, dan selalu meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian dalam upaya untuk memecahkan masalah dari berbagai aspek.

B. Implementasi Kepemimpinan Tranformasional di Sekolah Inklusif

Telah dijelaskan pada pengertian kepemimpinan transformasional diatas, yani dapat diambil garis besarnya bahwa pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu mengidentifikasi perubahan lingkungan serta mampu mentransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi, memelopori perubahan dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individu-individu karyawan untuk kreatif dan inovatif, serta membangun team work yang solid, membawa pembaharuan dalam etos kerja kinerja manajemen, berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan organisasi.
Menurut Stainback, 1996 (Astuti, 2011: 8), sekolah inklusif adalah sebuah sekolah yang menampung semua siswa dikelas yang sama, sementara Rose & Howley, 2007 (Astuti, 2011: 8), mengemukakan bahwa sekolah inklusif sebagai sekolah yang sistem layanan pendidikannya mempersyaratkan agar anak berkelaianan dilayani disekolah sesuai kemampuannya bersama-sama teman seusianya. Melalui pendidikan inklusif anak berbakat istimewa/cerdas istimewa dan anak berkelainan, dididik bersama anak-anak yang normal untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Adapun inti tujuan pendidikan inklusif adalah pemenuhan hak asasi manusia atas pendidikan, tanpa didiskriminasikan, dengan member kesempatan anak-anak yang memiliki hambatan dalam belajarnya bebas sekolahdi sekolah umum. Implementasinya adalah semua anak mempunyai hak untuk menerima pendidikan yang tidak mendeskriminasikan dengan kecacatan, etnis, agama, bahasa, jenis kelamin, kemampuan, dan lain-lain. Sebagainmana disampaikan bahwa tujuan umum pendidikan inklusif adalah member kesempatan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak tanpa terkecualian, sehingga semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk secara aktif mengembangkan potensi pribadinya dalam lingkungan yang sama.
Kepala Sekolah inklusif yang transformatif dapat menerapkan beberapa konsep yang tertera pada gambar dibawah ini:

Gambar 1.1
Model Kepemimpinan Transformasional
Sumber: Bass dan Avolio, 1994 (Suhardan, 2009)
Rees (2001) menyatakan paradigma baru kepemimpinan transformasional mengangkat tujuh prinsip menciptakan kepemimpinan yang sinergis, yakni:
1. Simplifikasi, yakni keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan serta keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis dan tentu saja transformasional yang dapat menjawab “Ke mana kita akan melangkah?” menjadi hal pertama yang penting untuk kita implementasikan.
2. Motivasi, yakni kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi sudah dijelaskan adalah hal kedua yang perlu dilakukan. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergis di dalam organisasi, berarti seharusnya dia dapat mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Praktisnya dapat saja berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang bagi mereka pula untuk terlibat suatu proses kreatif, memberikan usulan mengambil keputusan dalam pemecahan masalah, hal ini akan memberikan nilai tambah bagi mereka sendiri,
3. Fasilitasi, yakni dalam pengertian kemampuan untuk secara efektif memfasilitasi “pembelajaran” yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok, ataupun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual dari setiap orang yang terlibat di dalamnya,
4. Inovasi, yaitu kemampuan untuk secara berani dan bertanggung jawab melakukan suatu perubahan bilamana diperlukan dan menjadi suatu tuntutan dengan perubahan yang terjadi. Dalam suatu organisasi yang efektif dan efisien, setiap orang yang terlibat perlu mengantisipasi perubahan dan seharusnya pula mereka tidak takut akan perubahan tersebut. Dalam kasus tertentu, pemimpin transformasional harus sigap merespons perubahan tanpa mengorbankan rasa percaya dan tim kerja yang sudah dibangun,
5. Mobilitas, yaitu pengerahan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya dalam mencapai visi dan tujuan. Pemimpin transformasional akan selalu mengupayakan pengikut yang penuh dengan tanggung jawab,
6. Siap Siaga, yaitu kemampuan untuk selalu siap belajar tentang diri mereka sendiri dan menyambut perubahan dengan paradigma baru yang positif,
7. Tekad, yaitu tekad bulat untuk selalu sampai pada akhir, tekad bulat untuk menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas. Untuk ini tentu perlu pula didukung oleh pengembangan disiplin spiritualitas, emosi, dan fisik serta komitmen.
Prinsip kepemimpinan transformasional yang sinergis seperti Gambar 2.2 dibawah ini:
Menurut Scaffner dan Buswell, 1991 (Astuti, 2011; 32) melihat pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dalam sepuluh unsure penting untuk menciptakan komunitas sekolah inklusif dan efektif. Dewan Administrator Pendidikan Khusus (CASE) dalam dokumen mereka “Agenda Masa Depan CASE untuk Pendidikan Khusus, yakni menciptakan Sistem Pendidikan yang menyatu dengan merekomendasikan tindakan-tindakan berikut: (1) Tanggung jawab sebagai pengurus untuk semua siswa; (2) Pengembangan visi dan misi untuk sistem yang menyatu yang termasuk semua siswa; (3) Tanggung jawab melalui sistem hasil yang menyatu; (4) Persiapan semua pendidik untuk mendidik semua siswa; (5) Sistem pendanaan yang menyatu menekankan sumber yang berbeda tanpa label; (6) Manajemen lingkungan sebagai sarana pembentukan komunitas siswa; (7) Struktur kurikulum yang menyatu sebagai sarana untuk melaksanakan dialog tentang hasil perencanaan dan pengaturan; (8) Pengembanagn staf yang mendukung penyelesaian masalah penting, sumber yang berbeda dan perbaikan yang terus menerus; (9) akses untuk pelayanan komunitas yang menyatu atau didekat lingkungan sekolah; (10) Akses pada dan pelatihan teknologi yang tepat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya agar dapat bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang mampu membawa organisasi ke arah perubahan dan mampu menyebarkan nilai-nilai positif kepada anggotanya. Nilai-nilai positif tersebut merupakan visi organisasi.

2. Kepala sekolah inklusif yang transformatif yakni kepala sekolah yang mampu melaksanakan prinsip kepemimpinan transformasional yakni Simplifikasi, Motivasi, Fasilitasi, Inovasi, Mobilitas, Tekad, dan Siap Siaga.

B. Saran
1. Untuk Kepala Sekolah, diharapkan mampu menjadi pemimpin yang transformatif agar dapat menciptakan budaya sekolah yang meiliki nilai-nilai kearah tujuan/visi sekolah.

2. Untuk warga sekolah, diharapkan mampu mengikuti apa yang direncanakan oleh kepala sekolah dalam hal mentransformasikan budaya sekolah inklusif agar mampu menjadi sekolah inklusif yang unggul dan sekoalh yang ramah siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Mendambakan Kepemimpinan Transformasional. http://bangka.tribunnews.com (diakses pada tanggal 27 Mei 2012)

Anonim. Kepemimpinan Transformasional. http://www.stialanbandung.ac.id (Diakses pada tanggal 27 Mei 2012)

Anonim. 2011. Kepemimpinan Transformasional. http://masimamgun.blogspot.com (Diakses pada tanggal 28 Mei 2012)

Astuti, Idayu. 2011. Kepemimpinan Pembelajaran Sekolah Inklusif

Danim, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta; Bumi Aksara

Suhardan, Dadang. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung; Alfabeta