ABSTRAK
Karya tulis ilmiah ini akan menfokuskan pada pembangunan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus ketika dihadapkan pada sekolah inklusi yang bertemu dengan bermacam-macam siswa dengan budaya dan karakter yang berbeda karena ABK identik dengan kurang rasa percaya diri, untuk itu agar rasa percaya diri itu tumbuh dan tidak merasa minder dengan teman-teman yang non ABK dan begitu pula anak non ABK agar dapat saling berinteraksi dengan ABK maka perlu ada program tetater bocah untuk pengembangan diri mereka agar tidak selamanya minder dan dapat saling berinteraksi dengan teman sebayanya, tidak ada perbedaan yang menghalangi mereka.
Pendidikan inklusi adalah layanan pendidikan yang semaksimal mungkin mengakomodasi semua anak termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus atau anak luar biasa di sekolah atau lembaga pendidikan (diutamakan yang terdekat dengan tempat tinggal anak) bersama dengan teman-teman sebayanya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Metode Penulisan yang penulis gunakan adalah yang pertama menggunakan studi literature yakni dari kumpulan beberapa tori tentang landasan dan arti pendidikan inklusi kemudian dari beberapa teori tentang Anak Berkebutuhan Khusus beserta teori pengembangan diri dan teori tentang seni teater. Disamping teori yang mengenai hal diatas, penulis juga mencari ladasan hukum tentang pendidikan inklusif agar menunjang kekutan teori tersebut.
Program ini dilakukan setiap seminggu sekali sekaligus sebagai sarana latihan bagi anak ABK dan non ABK agar dapat terhabituasi dalam diri mereka untuk senantiasa mengaktualisasikan diri dan mengekspresikan diri tanpa adanya batasan atau stigma tertentu yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri mereka.
Berdasarkan hasil kajian baik kajian pustaka maupun kajian empiris yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan untuk semua khususnya anak berkebutuhan khusus harus menjadi paradigma serta perhatian utama bagi setiap elemen di dunia pendidikan agar tujuan dan falsafah pendidikan dapat tercapai sekaligus sebagai salah satu alternatif pencapaian pendidikan berkarakter yang berorientasi pada kehidupan masyarakat nantinya.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Mengacu pada Undang – Undang RI.No.20 Tahun 2003 yang berisi Pada hakekatnya Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual, pengendalian diri, kepribadian , kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan bagi dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Misi Pendidikan Nasional adalah meningkatkan kesiapan masukan dan kualitas proses pendidikan untuk mengoptimalkan kepribadian yang bermoral serta mengacu pada tujuan Pendidikan yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa , berakhlaq mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertujuan.
Permendiknas Republik Indonesia No 70 tahun 2009 tentang pendidikan inklusif bagi peserta didik yang memiliki kelainan dan memiliki potensi kecerdasan dan/atau bakat istimewa dan mengacu pada target ( EFA ) dakkar deklarasi Bangkok dari konferensi menteri pendidikan Asia Tenggara /UNESCO/SEAMEO, bahwa definisi yang komprehensif dari kualitas dan kesetaraan dalam pendidikan meliputi: (a) pendidikan inklusif, (b) pendidikan yang responsif gender, dan (c) lingkungan belajar yang protektif dan sehat.
Pada intinya pendidikan adalah untuk melayani semua kalangan. Tidak terkecuali yang berlatar belakang sekolah untuk anak berkebutuhan khusus. Akan tetapi alangkah indahnya jika ada pendidikan yang benar-benar merangkul semua kalangan tidak terpetakan untuk anak normal sendiri, anak berkebutuhan khusus sendiri, memang sewajarnya seperti itu, akan tetapi akan lebih bermakna pendidikan itu jika dalam satu gedung sekolah terdapat anak yang beragam mulai dari anak luar biasa, dan anak normal. Dengan cara seperti itu, maka semua siswa saling membutuhkan, saling menghargai dan menghormati satu sama lain. Misalnya anak yang normal dapat menutupi kekurangan anak yang luar biasa, begitupun sebaliknya itulah yang dinamakan pendidikan inklusif. Karena sebenarnya mereka semua mempunyai kemampuan yang luar biasa jika mampu mengelolanya.
Pengelolaan kemampuan siswa terkait juga dengan proses kegiatan belajar mengajar di sekolah, jika seorang guru kurang mampu member motivasi kepada anak didiknya untuk berkembang dan maka secara tidak sengaja seorang guru tersebut sudah membunuh potensi siswanya secara perlahan. Dan begitupun sebaliknya jika seorang guru mampu memfasilitas, memotivasi siswanya untuk mengembangkan potensinya maka kekuatan potensi itu sangat luar biasa tidak terkecuali potensi yang dimiliki oleh siswa berkebutuhan khusus, karena sebenarnya mereka menyimpan potensi yang luar biasa pada dirinya dan jika memang semua anak terfasilitasi dalam satu atap maka potensi mereka tak akan berhenti berkembang.
Akan tetapi membuat sekolah inklusif itu tidak semudah membalikkan telapak tangan akan tetapi banyak hambatan dan tantangan yang berupa penolakan dari beberapa pihak misalnya dari anggapan guru mengatakan bahwa mengajar anak berkebutuhan khusus itu sulit dan merepotkan baginya. Sedangakn dari anggapan siswa sendiri yaitu merasa dirinya sempurna dan berusaha untuk menjauhi teman yang memiliki kebutuhan khusus. Terhubung lagi oleh anggapan orangtua siswa yakni merasa putra-putrinya lebih baik dan tidak boleh berkumpul atau berteman dengan ABK. Dan yang paling mengenaskan adalah ada anggapan dari masyarakat sekitar dan itu sudah merupakan image masyarakat yakni sekolah inklusi dianggap sekolah bagi anak buangan, nakal dan banyak lagi konsep negetif mewarnai lembaga tersebut.
Masih terdapat masalah lain yang dirasakan oleh ABK terutama berhubungan dengan pembangunan rasa percaya diri pada diri anak tersebut. Karya tulis ilmiah ini akan menfokuskan pada pembangunan rasa percaya diri anak berkebutuhan khusus ketika dihadapkan pada sekolah inklusi yang bertemu dengan bermacam-macam siswa dengan budaya dan karakter yang berbeda karena ABK identik dengan kurang rasa percaya diri, untuk itu agar rasa percaya diri itu tumbuh dan tidak merasa minder dengan teman-teman yang non ABK dan begitu pula anak non ABK agar dapat saling berinteraksi dengan ABK maka perlu ada program tetater bocah untuk pengembangan diri mereka agar tidak selamanya minder dan dapat saling berinteraksi dengan teman sebayanya, tidak ada perbedaan yang menghalangi mereka. Dengan program Teater Bocah yang mana Teater ini diperuntukkan bagi semua siswa ABK maupun non ABK di sekolah inklusi yang saling berkomunikasi melalui peran dalam teater tersebut, pemilihan peran, disesuaikan dengan karakteristik dan bakat anak tersebut. dengan begitu, maka mereka merasa dihargai satu sama lain dan diakui keberadan serta potensi yang dimilikinya, dengan itu, maka rasa percaya diri akan berkembang dengan sendirinya secara perlahan.

B. Rumusan Masalah
Bagaimana cara menerapkan pengembangan diri ABK melalui teater bocah di sekolah dasar inklusi ?

C. Tujuan
Menerapkan dan mengembangkan program pengembangan diri ABK melalui teater bocah di sekolah dasar inklusi.

D. Manfaat
Dapat menerapkan program pengembangan diri ABK melalui teater bocah di sekolah dasar inklusi.

BAB II
TELAAH PUSTAKA

A. Landasan hukum dan Pengertian pendidikan inklusif
Kebijakan reformasi terbuka ditahun 80-an mendorong lebih banyak perhatian dari pemerintah kepada hak-hak anak cacat. Undang-undang yang dipublikasikan pada tahun 1982, menyatakan dalam artikel 45 bahwa bangsa dan masyarakat harus mengelola pekerjaan, penghidupan yang layak dan pendidikan untuk orang tunarungu, tunanetra, dan orang dengan kecacatan lain. UU pendidikan wajib 1986 memberikan mandate bahwa “semua anak yang telah mencapai usia enam tahun akan diterima disekolah dan akan menerima pendidikan wajib untuk jumlah tahun yang ditentukan”. Penerimaan siswa cacat sejak itu telah menjadi indeks kualitas nasional dari performa sekolah kabupaten. Ini kemudian dimandatkan melalui UU tentang perlindungan anak cacat dari 1990 (LPDP), bahwa semua orang cacat harus mendapatkan hak yang setara termasuk hak atas pendidikan. Artikel 3, bagian 18 dari LPDP menyatakan bahwa masyarakat dan keluarga harus memberikan pendidikan untuk anak cacat. UU ini dan peraturan 1994 tentang pendidikan untuk orang cacat dua-duanya menuntut pendidikan wajib 9 tahun untuk semua anak cacat. (Xianguang, 2006:6)
Pendidikan inklusif juga memiliki landasan hukum yang kuat. Yakni ada beberapa instrumen-instrumen Internasional yang relevan dengan Pendidikan Inklusif, pada tahun 1948 berbicara masalah Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia, kemudian pada tahun 1989 tentang Konvensi PBB tentang Hak Anak dan pada tahun 1990 tentang Deklarasi Dunia tentang Pendidikan untuk Semua,dan pada tahun 1993 tentang Peraturan Standar tentang Persamaan Kesempatan bagi para Penyandang Cacat dan pada tahun 1994 tentang Pernyataan Salamanca dan Kerangka Aksi tentang Pendidikan Kebutuhan Khusus kemudian tahun 1999 tentang Tinjauan 5 tahun Salamanca, tahun 2000 tentang Kerangka Aksi Forum Pendidikan Dunia, Dakar, tahun 2000 tentang Tujuan Pembangunan Millenium yang berfokus pada Penurunan Angka Kemiskinan dan Pembangunan dan tahun 2001 tentang Flagship PUS tentang Pendidikan dan Kecacatan. (Stubbs,Sue:2002,14)
Memiliki pemahaman yang jelas tentang pendidikan inklusif itu penting karena tergantung pada prinsip- prinsip dan nilai-nilai yang mendasari pemahaman itu, hasilnya dapat sangat berbeda. Jika pendidikan inklusif didefinisikan secara sempit, atau didasarkan pada asumsi ‘anak sebagai masalah’ dan jika kemudian definisi tersebut digunakan untuk mengembangkan atau memonitor prakteknya, maka pendidikan inklusif akan gagalatau tidak berkesinambungan.
Definisi pendidikan inklusif juga terus-menerus berkembang sejalan dengan semakin mendalamnya renungan orang terhadap praktek yang ada, dan sejalan dengan dilaksanakannya pendidikan inklusif dalam berbagai budaya dan konteks yang semakin luas. Definisi pendidikan inklusif harus terus berkembang jika pendidikan inklusif ingin tetap menjadi jawaban yang riil dan berharga untuk mengatasi tantangan pendidikan dan hak asasi manusia.
Akhirnya, mendefinisikan pendidikan inklusif itu penting karena banyak orang masih menganggap bahwa pendidikan inklusif hanya merupakan versi lain dari PLB. Konsep utama dan asumsi yang melandasi pendidikan inklusif adalah justru dalam berbagai hal bertentangan dengan konsep dan asumsi yang melandasi ‘pendidikan luar biasa’.
“Inklusi atau Pendidikan Inklusif bukan nama lain untuk ‘pendidikan kebutuhan khusus’. Pendidikan inklusif menggunakan pendekatan yang berbeda dalam mengidentifikasi dan mencoba memecahkan kesulitan yang muncul di sekolah. pendidikan kebutuhan khusus dapat menjadi hambatan bagi perkembangan praktek inklusi di sekolah.”
Konsep pendidikan inklusif memiliki lebih banyak kesamaan dengan konsep yang melandasi gerakan ‘Pendidikan untuk Semua’ dan ‘Peningkatan mutu sekolah’. Pendidikan inklusif merupakan pergeseran dari kecemasan tentang suatu kelompok tertentu menjadi upaya yang difokuskan untuk mengatasi hambatan untuk belajar dan berpartisipasi.
Beberapa definisi Pendidikan Inklusif yang dirumuskan dalam Seminar Agra disetujui oleh 55 peserta dari 23 negara (terutama dari ‘Selatan’) pada tahun 1998. Definisi ini kemudian diadopsi dalam South African White Paper on Inclusive Education dengan hampir tidak mengalami perubahan:
Definisi Seminar Agra dan Kebijakan Afrika Selatan tentang Pendidikan Inklusif:
• Lebih luas daripada pendidikan formal: mencakup pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal.
• Mengakui bahwa semua anak dapat belajar.
• Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak.
• Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak dari segi usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan, status HIV/AIDS dll.
• Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya.
• Merupakan bagian dari strategi yang lebih luas untuk mempromosikan masyarakat yang inklusif. (Stubbs, 2002:37)
Pengertian Inklusi merupakan pengertian yang beragam. Stainback dan Stainback (1990) mengemukakan bahwa sekolah inklusi adalah sekolah yang menampung semua siswa di kelas yang sama. Sekolah ini menyediakan program pendidikan yang layak, menentang, tetapi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan setiap siswa maupun bantuan dan dukungan yang dapat diberikan oleh para guru agar siswa-siswanya berhasil. Lebih dari itu, sekolah inklusi juga merupakan tempat setiap anak dapat diterima menjadi bagian dari kelas tersebut, dan saling membantu dengan guru dan teman sebayanya maupun anggota masyarakat lain agar kebutuhan individualnya dapat terpenuhi.
Pendidikan inklusi adalah layanan pendidikan yang semaksimal mungkin mengakomodasi semua anak termasuk anak yang memiliki kebutuhan khusus atau anak luar biasa di sekolah atau lembaga pendidikan (diutamakan yang terdekat dengan tempat tinggal anak) bersama dengan teman-teman sebayanya dengan memperhatikan kebutuhan dan kemampuan yang dimiliki oleh anak.
Pendapat lain mengatakan Pendidikan Inklusi adalah pendidikan yang memberikan layanan kepada setiap anak tanpa terkecuali. Pendidikan yang memberikan layanan terhadap semua anak tanpa memandang kondisi fisik, mental, intelektual, sosial, emosi, ekonomi, jenis kelamin, suku, budaya, tempat tinggal, bahasa dan sebagainya. Semua anak belajar bersama-sama, baik di kelas/ sekolah formal maupun nonformal yang berada di tempat tinggalnya yang disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing anak.
Dapat disimpulkan bahwa pendidikan inklusi adalah:
1) Pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, emosional, sosial maupun kondisi lainnya.
2) Pendidikan yang memungkinkan semua anak belajar bersama-sama tanpa memandang perbedaan yang ada pada mereka.
3) Pendidikan yang berupaya memenuhi kebutuhan anak sesuai dengan kemampuannya.
4) Pendidikan yang dilaksanakan tidak hanya di sekolah formal, tetapi juga di lembaga pendidikan dan tempat lainnya.

Dalam pendidikan inklusif memang tidak memandang dari segi apapaun, semua adalah sama. Akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pendidikan inklusif yakni dalam hal:
1. Keluarga
Orangtua peserta didik berkebutuhan khusus memegang peran penting dalam menentukan pendidikan anaknya. Keterlibatan orangtua merupakan masukan (input) penting dalam pendidikan inklusif. . Pandangan orangtua peserta didik berkebutuhan khusus-lah yang menentukan apakah anaknya akan memperoleh pendidikan secara mainstream atau ikut serta dalam pendidikan inklusif.
2. Peserta Didik
Peserta didik berkebutuhan khusus memiliki karakteristik kebutuhan khususnya masing-masing. Secara umum, aspek-aspek yang perlu dipersiapkan mereka untuk mengikuti pendidikan inklusif, meliputi: (a) Komunikasi dan bahasa yang meliputi : kemampuan untuk menyampaikan pikiran, perasaan, gagasan, kebutuhan dan kehendaknya pada orang lain; kemampuan untuk memahami orang lain serta kemampuan untuk dimengerti oleh orang lain, (b) Bantu diri adalah: kemampuan untuk lebih mandiri dalam kegiatan sehari-hari seperti membersihkan diri, makan dan minum sendiri, (c) Mobilitas dan aksesibilitas adalah: kemampuan untuk bergerak dimana kemampuan ini sangat tergantung pada kemampuan spasial (kemampuan untuk menjelajah lingkungan), dan
(d) Keterampilan sosial adalah: kemampuan untuk menjalin hubungan dengan lingkungan sosialnya seperti orangtua, keluarga, guru dan masyarakat.
3. Sekolah
Faktor-faktor yang perlu diperhatikan oleh sekolah untuk memastikan bahwa peserta didik berkebutuhan khusus memiliki kesempatan mendapatkan pelayanan pendidikan yang sama dengan anak lainnya adalah : (a) Pengorganisasian kurikulum oleh sekolah (the organization of the curriculum), (b) Sifat dasar dari isi kurikulum (the nature of the curriculum content). (c) Penilaian dan pelaporan perkembangan peserta didik, dan (d) Keputusan terhadap alokasi sumber daya yang dibutuhkan (Xianguang,Peng, 2006:7)

B. Teori Pengembangan Diri dan Seni Teater
Penggunaan istilah Pengembangan Diri dalam kebijakan kurikulum memang relatif baru. Kehadirannya menarik untuk didiskusikan baik secara konseptual maupun dalam prakteknya. Jika menelaah literatur tentang teori-teori pendidikan, khususnya psikologi pendidikan, istilah pengembangan diri disini tampaknya dapat disepadankan dengan istilah pengembangan kepribadian, yang sudah lazim digunakan dan banyak dikenal. Meski sebetulnya istilah diri (self) tidak sepenuhnya identik dengan kepribadian (personality). Istilah diri dalam bahasa psikologi disebut pula sebagai aku, ego atau self yang merupakan salah satu aspek sekaligus inti dari kepribadian, yang di dalamnya meliputi segala kepercayaan, sikap, perasaan, dan cita-cita, baik yang disadari atau pun yang tidak disadari. Aku yang disadari oleh individu biasa disebut self picture (gambaran diri), sedangkan aku yang tidak disadari disebut unconscious aspect of the self (aku tak sadar) (Nana Syaodich Sukmadinata, 2005). Menurut Freud (Calvin S. Hall & Gardner Lindzey, 1993) ego atau diri merupakan eksekutif kepribadian untuk mengontrol tindakan (perilaku) dengan mengikuti prinsip kenyataan atau rasional, untuk membedakan antara hal-hal terdapat dalam batin seseorang dengan hal-hal yang terdapat dalam dunia luar.
Setiap orang memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan dirinya, ada yang realistis atau justru tidak realistis. Sejauh mana individu dapat memiliki kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-citanya akan berpengaruh terhadap perkembangan kepribadiannya, terutama kesehatan mentalnya. Kepercayaan, sikap, perasaan dan cita-cita akan seseorang akan dirinya secara tepat dan realistis memungkinkan untuk memiliki kepribadian yang sehat. Namun, sebaliknya jika tidak tepat dan tidak realistis boleh jadi akan menimbulkan pribadi yang bermasalah. Kepercayaan akan dirinya yang berlebihan (over confidence) menyebabkan seseorang dapat bertindak kurang memperhatikan lingkungannya dan cenderung melabrak norma dan etika standar yang berlaku, serta memandang sepele orang lain. Selain itu, orang yang memiliki over confidence sering memiliki sikap dan pemikiran yang over estimate terhadap sesuatu. Sebaliknya kepercayaan diri yang kurang, dapat menyebabkan seseorang cenderung bertindak ragu-ragu, rasa rendah diri dan tidak memiliki keberanian. Kepercayaan diri yang berlebihan maupun kurang dapat menimbulkan kerugian tidak hanya bagi dirinya namun juga bagi lingkungan sosialnya.
Begitu pula, setiap orang memiliki sikap dan perasaan tertentu terhadap dirinya. Sikap akan diwujudkan dalam bentuk penerimaan atau penolakan akan dirinya, sedangkan perasaan dinyatakan dalam bentuk rasa senang atau tidak senang akan keadaan dirinya. Sikap terhadap dirinya berkaitan erat dengan pembentukan harga diri (penilaian diri), yang menurut Maslow merupakan salah satu jenis kebutuhan manusia yang amat penting. Sikap dan mencintai diri yang berlebihan merupakan gejala ketidaksehatan mental, biasa disebut narcisisme. Sebaliknya, orang yang membenci dirinya secara berlebihan dapat menimbulkan masochisme.
Disamping itu, setiap orang pun memiliki cita-cita akan dirinya. Cita-cita yang tidak realistis dan berlebihan, serta sangat sulit untuk dicapai mungkin hanya akan berakhir dengan kegagalan yang pada akhirnya dapat menimbulkan frustrasi, yang diwujudkan dalam bentuk perilaku salah-suai (maladjusted). Sebaliknya, orang yang kurang memiliki cita-cita tidak akan mendorong ke arah kemajuan.
Berkenaan dengan diri atau ego ini, John F. Pietrofesa (1971) mengemukakan tiga komponen tentang diri, yaitu : (1) aku ideal (ego ideal); (2) aku yang dilihat dirinya (self as seen by self); dan (3) aku yang dilihat orang lain (self as seen by others). Dalam keadaan ideal ketiga aku ini persis sama dan menunjukkan kepribadian yang sehat, sementara jika terjadi perbedaan-perbedaan yang signifikan diantara ketiga aku tersebut merupakan gambaran dari ketidakutuhan dan ketidaksehatan kepribadian.
Dengan memperhatikan dasar teoritik tersebut di atas, kita bisa melihat arah dan hasil yang diharapkan dari kegiatan Pengembangan Diri di sekolah yaitu terbentuknya keyakinan, sikap, perasaan dan cita-cita para peserta didik yang realistis, sehingga peserta didik dapat memiliki kepribadian yang sehat dan utuh.
Secara konseptual, dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 22 Tahun 2006 kita mendapati rumusan tentang pengembangan diri, sebagai berikut :
Pengembangan diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Pengembangan diri bertujuan memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minat setiap peserta didik sesuai dengan kondisi sekolah. Kegiatan pengembangan diri difasilitasi dan atau dibimbing oleh konselor, guru, atau tenaga kependidikan yang dapat dilakukan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan pengembangan diri dilakukan melalui kegiatan pelayanan konseling yang berkenaan dengan masalah diri pribadi dan kehidupan sosial, belajar, dan pengembangan karir peserta didik.
Berdasarkan rumusan di atas dapat diketahui bahwa Pengembangan Diri bukan merupakan mata pelajaran yang harus diasuh oleh guru. Dengan sendirinya, pelaksanaan kegiatan pengembangan diri jelas berbeda dengan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar mata pelajaran. Seperti pada umumnya, kegiatan belajar mengajar untuk setiap mata pelajaran dilaksanakan dengan lebih mengutamakan pada kegiatan tatap muka di kelas, sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan berdasarkan kurikulum (pembelajaran reguler), di bawah tanggung jawab guru yang berkelayakan dan memiliki kompetensi di bidangnya. Walaupun untuk hal ini dimungkinkan dan bahkan sangat disarankan untuk mengembangkan kegiatan pembelajaran di luar kelas guna memperdalam materi dan kompetensi yang sedang dikaji dari setiap mata pelajaran.
Sedangkan kegiatan pengembangan diri seyogyanya lebih banyak dilakukan di luar jam reguler (jam efektif), melalui berbagai jenis kegiatan pengembangan diri. Salah satunya dapat disalurkan melalui berbagai kegiatan ekstra kurikuler yang disediakan sekolah, di bawah bimbingan pembina ekstra kurikuler terkait, baik pembina dari unsur sekolah maupun luar sekolah. Namun perlu diingat bahwa kegiatan ekstra kurikuler yang lazim diselenggarakan di sekolah, seperti: pramuka, olah raga, kesenian, PMR, kerohanian atau jenis-jenis ekstra kurikuler lainnya yang sudah terorganisir dan melembaga bukanlah satu-satunya kegiatan untuk pengembangan diri.
Di bawah bimbingan guru maupun orang lain yang memiliki kompetensi di bidangnya, kegiatan pengembangan diri dapat pula dilakukan melalui kegiatan-kegiatan di luar jam efektif yang bersifat temporer, seperti mengadakan diskusi kelompok, permainan kelompok, bimbingan kelompok, dan kegiatan-kegiatan lainnya yang bersifat kelompok. Selain dilakukan melalui kegiatan yang bersifat kelompok, kegiatan pengembangan diri dapat dilakukan pula melalui kegiatan mandiri, misalnya seorang siswa diberi tugas untuk mengkaji buku, mengunjungi nara sumber atau mengunjungi suatu tempat tertentu untuk kepentingan pembelajaran dan pengembangan diri siswa itu sendiri.
Selain kegiatan di luar kelas, dalam hal-hal tertentu kegiatan pengembangan diri bisa saja dilakukan secara klasikal dalam jam efektif, namun seyogyanya hal ini tidak dijadikan andalan, karena bagaimana pun dalam pendekatan klasikal kesempatan siswa untuk dapat mengembangkan dan mengekspresikan diri sesuai dengan kebutuhan, bakat, dan minatnya relatif terbatasi. Hal ini tentu saja akan menjadi kurang relevan dengan tujuan dari pengembangan diri itu sendiri sebagaimana tersurat dalam rumusan tentang pengembangan diri di atas.
Dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya, dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan terjadi pengurangan jumlah jam efektif setiap minggunya, namun dengan adanya pengembangan diri maka sebetulnya aktivitas pembelajaran diri siswa tidaklah berkurang, siswa justru akan lebih disibukkan lagi dengan berbagai kegiatan pengembangan diri yang memang lebih bersifat ekspresif, tanpa “terkerangkeng” di dalam ruangan kelas.
Kegiatan pengembangan diri harus memperhatikan prinsip keragaman individu. Secara psikologis, setiap siswa memiliki kebutuhan, bakat dan minat serta karakateristik lainnya yang beragam. Oleh karena itu, bentuk kegiatan pengembangan diri pun seyogyanya dapat menyediakan beragam pilihan.
Hal yang fundamental dalam dalam kegiatan Pengembangan Diri bahwa pelaksanaan pengembangan diri harus terlebih dahulu diawali dengan upaya untuk mengidentifikasi kebutuhan, bakat dan minat, yang dapat dilakukan melalui teknik tes (tes kecerdasan, tes bakat, tes minat dan sebagainya) maupun non tes (skala sikap, inventori, observasi, studi dokumenter, wawancara dan sebagainya).
Dalam hal ini, peranan bimbingan dan konseling menjadi amat penting, melalui kegiatan aplikasi instrumentasi data dan himpunan data, bimbingan dan konseling seyogyanya dapat menyediakan data yang memadai tentang kebutuhan, bakat, minat serta karakteristik peserta didik lainnya. Data tersebut menjadi bahan dasar untuk penyelenggaraan Pengembangan Diri di sekolah, baik melalui kegiatan yang bersifat temporer, kegiatan ekstra kurikuler, maupun melalui layanan bimbingan dan konseling itu sendiri.
Namun harus diperhatikan pula bahwa kegiatan Pengembangan Diri tidak identik dengan Bimbingan dan Konseling. Bimbingan dan Konseling tetap harus ditempatkan sebagai bagian integral dari sistem pendidikan di sekolah dengan keunikan karakteristik pelayanannya.

BAB III
METODE PENULISAN
A. Kajian Pustaka
Metode Penulisan yang penulis gunakan adalah yang pertama menggunakan studi literature yakni dari kumpulan beberapa tori tentang landasan dan arti pendidikan inklusi kemudian dari beberapa teori tentang Anak Berkebutuhan Khusus beserta teori pengembangan diri dan teori tentang seni teater. Disamping teori yang mengenai hal diatas, penulis juga mencari ladasan hukum tentang pendidikan inklusif agar menunjang kekutan teori tersebut.
B. Kajian Fenomena Lapangan
Setelah mencari data di studi pustaka, selanjutnya yang penulis lakukan adalah mengkaji fenomena yang berada di lapangan khususnya di lingkungan sekolah dasar inklusi. Untuk mengetahui apa masalah yang terjadi atau apa hambatan yang selama ini dirasakan oleh sekolah dasar inklusif. Dengan seperti itu, maka akan memudahkan penulis mencari permasalahan yang dirasakan dan nantinya akan memberikan sebuah alternative solusi kepada sekolah tersebut.
C. Menentukan Permasalahan dan Alternatif Solusi
Setelah mengetahui kondisi di lapangan, khususnya di sekolah inklusif tersebut, maka hal yang dilakukan selanjutnya adalah menentukan titik permasalahan yang dirasakan oleh sekolah dasar inklusif. Kemudian dari permasalahan tersebut, penulis mencoba menganalisis melalui beberapa teori yang telah ditemukan.
D. Mensintesakan Teori dengan Data
Kemudian dari permasalahan tersebut, setelah dianalisis menggunakan teori-teori yang ada maka penulis akan mencari jalan tengah pemecahan masalah yang ada sesuai dengan teori –teori yang ada kemudian di sinkronkan dengan data yang ada di lapangan, apakah solusi dari penulis sudah menjawab permasalahan yang dialami oleh sekolah dasar inklusi tersebut.
E. Kesimpulan
Dari mulai mengumpulkan teori beserta landasan hukumnya, kemudian mengkaji fenomena yang ada di lapangan, menentukan permasalahan dan mencari solusi alternatifnya kemudian di sintesakan maka akhirnya semuanya itu disimpulkan jadi satu titik pembahasan. Yang dimana pembahasan itu menyangkut inti sari dari pembuatan karya tulis ilmiah ini.
F. Saran dan Rekomendasi
Setelah ada pemecahan alternative solusi, yang nantinya alternative solusi tersebut akan diberikan kepada sekolah dasar inklusi yang memiliki masalah tentang pengembangan diri anak berkebutuhan khusus, sebelum mengimplementasikan alternative solusi ini maka ada beberapa saran yang harus dilakukan oleh sekolah agar prosedur sesuai dengan apa yang diharapkan oleh penulis, setelah itu ada beberapa rekomendasi yang sebaiknaya solusi ide ini agar di implementasikan.

BAB IV
ANALISIS DAN SINTESIS

A. Prosedur pembuatan program “Teater Bocah”
Pembuatan program teater bocah ini diawali dengan penentuan naskah drama yang mempunyai karakteristik sesuai dengan lingkungan sekolahnya. Penulis tidak sampai member contoh naskah drama yang seperti apa, yang jelas dalam mempraktekkannya semua anak baik anak normal, anakl berkebutuhan khusus maupun anak berkesulitan belajar semuanya masuk dalam peran.
Setelah pembuatan naskah dramanya maka hal selanjutnya adalah penentuan peran. Penentuan peran ini juga disesuaikan dengan karakter anaknya. Dengan melihat pendidikan inklusi yang beragam anak, maka dari itu peran seorang pelatih drama harus teliti dalam menentukan peran seorang anak dalam teaternya.
Anak berkebutuhan khusus memiliki bermacam-macam jenis. Dan antara jenis satu dan jenis lainnya tidak dapat disamakan karena kebutuhan dan karakter yang berbeda. Untuk itu, dalam program teater bocah ini semua anak ABK dari jenis apapun mampu mengikuti program ini disesuaikan dengan bakat dan kemampuan nya dalam bagian apa.
Tuna rungu : Penderita tunarungu adalah mereka yang memiliki hambatan perkembangan indra pendengar. Tunarungu tidak bisa mendengar suara atau bunyi. Dikarenakan tidak mampu mendengar suara atau bunyi, kemampuan berbicara pun kadang terganggu. Sebagaimana kita tahu bahwa keterampilan berbicara seringkali dipenaruhi oleh seberapa sering orang tersebut mendengar orang lain berbicara.Akibatnya anak-anak tunarungu sekaligus memiliki hamnbatan bicara dan menjadi bisu . Untuk berkomunikasi dengan orang lain mereka mengguakan bahasa bibir atau bahasa isyarat.Sebagaimana anak tunanetra meraka memiliki potensi perkembangan yang sama dnegan ana-anak lain yang tidak memiliki hambatan perkembangan apapun.(Geniofam,2010:20)
Dengan melihat teori diatas, maka anak tunarungu diarahkan ke iringan music atau tarian yang menggunakan bahasa tubuh atau bahasa bibir. Selain itu, anak tunarungu juga lebih mudah daiarahkan ke seni pantomim (bahasa tubuh).
Tuna daksa : adalah penderita kelainan fisik,khususnya anggota Abadan, seperti tangan, kaki, atau bentuk tubuh. Penyimpangan perkembangan terjadi pada ukuran, bentuk, atau kondisi lainnya. Sebenarnya secara umum mereka memiliki peluang yang sama untuk melakukan aktualisasi diri. Namun karena lingkungan kurang mempercayai kemampuannya, terlalu menaruh rasa iba, maka anak-anak tunadaksa sedikit memiliki hambatan psikologis, seperti tidak percaya diridan tergantung pada orang lain. Akibatnya penampilan dan keberadaan mereka di kehidupan umum kurang diperhitungkan. (Geniofam,2011: 21)
Tokoh dalam teater, karena tuna daksa ini dapat mengembangkan kemampuan intrapersonalnya melalui teater ini dengan tujuan meminimalisir konsep diri yang rendah. Dengan adanya teater ini anak tunadaksa dapat melakukan terapi okupasi.
Tuna netra : adalah orang yang memiliki ketajaman penglihatan 20/200 atau kurang pada mata yang baik,walaupun dengan memeakai kacamata,atau yang daerah penglihatannya sempit sedemikian kecil sehingga yang terbesar jarak sudutnya tidak lebih dari 20 derajat.Tunanetra dibagi atas dua kelompok besar :
1.Buta total : Orang dikatakan buta total jika tidak dapat melihat dua jari di mukanya atau hanya melihat sinar atau cahaya yang dapat dipergunakan untuk orientasi mobilitas.mereka tidak dapat menggunakan huruf selain huruf Braille.
2. Kurang penglihatan : Mereka yang tergolong kurang penglihatan adalah yang bila melihat sesuatu mata harus di dekatkan atau mata harus dijauhkan dari objek yang dilihatnya,atau mereka yang memiliki pemandangan kabur ketika melihat objek. Untuk mengatasi permasalahan penglihatannya ,penderita kurang penglihatan menggunakan kacamata atau lensa kontak.(Geniofam,2011: 11)
Dari teori diatas maka anak berkebutuhan khusus tuna netra dapat difokuskan ke pembacaan pusi menggunakan alat bantu braile.
Tunagrahita : sebagai kelainan yang meliputi fungsi intelektual umum dibawah rata-rata,yaitu IQ 84 kebawah berdasarka tes dan muncul sebelum usia 16 tahun sedangkan pengertian tunagrahita menurut Japan League for Mentally Retarded adalah lambatnya fungsi intelektual yaitu IQ 70 kebawah berdasarkan tes intelegensi baku dan terjadi pada masa perkembangan yaitu antara masa konsepsi hingga usia 18 tahun. (Geniofam,2011: 24)
Dari teori diatas maka tunagrahita dapat diarahkan sebagai pemeran teater.tokoh yang menjadi bagian dari teater tersebut.

Tunalaras : adalah anak yang mengalami gangguan emosi dan perilaku.secara fisik
penderita tunalaras tidak mempunyai perbedaa yang mencolok daripada anak yang normal.(Geniofam,2011: 27)
Dari tori diatas maka anak yang mengalami tunalaras dapat difokoskan pada bagian pemeran yang antagonis sebagai alternatifnya.
Autis: adalah syndrome yang serig disalah pahami oleh kebanyakan orang. Anak-anak penyandang autis sering kali dianggap tidak waras,gila, dan berbahaya. Sungguh pemahaman yang tragis dan menakutkan. Dengan persepsi masyarakat yang sedemikian rupa, maka perkembangan dan keberadaan anak autis menjadi tidak diperhatikan.
Jangankan untuk sekolah, untuk berinteraksi saja anak autis sering tidak mendapatkan tempat. Begitu sulit mengubah persepsi dan penerimaan masyarakat terhadap anak autis, barangkali juga sesulit menemukan yang menjadi penyebab autis itu sendiri. Berbagai spekulasi telah disampaikan mengenai penyebab autism. Beberapa ahli menyatakan autism disebabkan oleh keturunan. Ahli lain mengatakan penyebab autis adalah pola makan dan gaya hidup. Dapat disimpulkan bahwa anak autis sebenarnya memiliki potensi yang dapat dikembangkan sebagai pegangan hidupnya kelak. Hanya saja model pengembangan diri dan pendidikan bagi anak autis harus disusun dengan standar dan komposisi berbeda dengan anak kebanyakan lainnya. Hal ini menginat karakter anak autis yang berbeda dan unik.(Geniofam,2011: 28)
Dari karakternya anak autis yakni yang berbeda dan unik maka anak autis ini dapat difokuskan pada pemeran atau pemain berperan baik maupun berperan lucu disesuaikan pada karakter masing-masing anaknya.
Dengan mengimplementasikan teater dengan bagian peran seperti diatas maka meraka merasa dihargai dan merasa kepecayaan dirinya meningkat dan kemampuan bersosialisasi dengan siapapun akan jauh lebih baik.Keterlibatan anak normal dapat berfungsi sebagai stimulus positif bagi teater ini karena akan memberikan kesan bagi ABK bahwa anak normal juga sama dengan mereka yang membaur menjadi satu dalam teater ini.
Program ini dilakukan setiap seminggu sekali sekaligus sebagai sarana latihan bagi anak ABK dan non ABK agar dapat terhabituasi dalam diri mereka untuk senantiasa mengaktualisasikan diri dan mengekspresikan diri tanpa adanya batasan atau stigma tertentu yang dapat menurunkan tingkat kepercayaan diri mereka.Program ini nantinya dipersiapkan untuk menjadi program unggulan berkarakter untuk dikompetisikan atau dapat dikirim sebagai duta sekolah untuk berbagai perlombaan antar sekolah maupun yang lebih tinggi kelak jika benar-benar dapat berjalan sesuai rencana.

BAB V
SIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil kajian baik kajian pustaka maupun kajian empiris yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan untuk semua khususnya anak berkebutuhan khusus harus menjadi paradigma serta perhatian utama bagi setiap elemen di dunia pendidikan agar tujuan dan falsafah pendidikan dapat tercapai sekaligus sebagai salah satu alternatif pencapaian pendidikan berkarakter yang berorientasi pada kehidupan masyarakat nantinya.Oleh karena itu diperlukan suatu pendekatan-pendekatan humanis untuk mewujudkannya .Program teater bocah ini merupakan terobosan untuk mendayagunakan serta memberdayakan anak berkebutuhan khusus (ABK) untuk mengaktualisasikan diri sekaligus mengembangkan diri melalui media drama/teater yang diharapkan dapat menjadi sarana bagi ABK untuk tumbuh dan berkembang menjadi manusia seutuhnya tanpa memandang kekurangan yang ada.
Program ini diarahkan sekaligus menjadi rekomendasi bagi sekolah dasar inklusi dengan harapan agar seluruh siswa secara tidak langsung dapat mengimplementasikan dengan baik pendidikan karakter karena antara anak ABK dan non ABK dapat terjalin komunikasi yang baik melalui interaksi dalam peran di teater.