Hari itu masih pagi. Ada sepasang anak kembar, berwajah sangat manis. Yang satunya terlihat diam, sambil memandang lurus kedepan. Sedangkan yang satunya, tak bisa diam dan selalu menarik – narik kerudung sang bunda dan pengasuhnya.
Sepintas tak ada yang aneh dari pemandangan itu. Namun setelah diperhatikan dengan seksama, ada yang “menarik” dari kedua bocah ini. Wajah manis mereka tak mampu menutupi tingkah polah mereka yang diluar kebiasaan anak pada umumnya. Bocah yang terlihat kalem tersebut tak pernah peduli dengan sekelilingnya. Padahal banyak orang yang merasa gemas dengannya. Sedangkan yang kembarannya, walaupun terlihat agresif namun hanya tertarik pada satu hal. Dia hanya tertarik pada rambut. Jadi jangan berani mendekat jika tak pakai jilbab atau kerudung pasti akan dikejar untuk sekedar dipegang rambut anda. Saya yang penasaran mencoba untuk mendekat. Setelah saya berbicara dan mendapatkan sedikit informasi dari sang bunda, kedua anak tersebut adalah anak – anak autis.
Itu adalah hari pertama mereka masuk sekolah. Di sebuah sekolah yang bukan sekolah luar biasa, tapi sekolah biasa dengan kurikulum standar. Namun sekolah ini, telah memantapkan diri untuk menerima semua “jenis” anak, apapun kondisinya. Karena setiap anak berhak untuk mendapatkan pendidikan. Siapapun dia. Inilah yang mungkin dinamakan sekolah inklusi.
Sekolah inklusi memang tengah bergerak progresif. Walaupun pada saat ini baru terdapat 624 sekolah Inklusi di seluruh Indonesai, dari tingkat SD hingga SMA. Pada awalnya, dikarenakan begitu sulitnya dan terbatasnya mencari sekolah untuk anak – anak berkebutuhan khusus atau cacat, muncul ide untuk menerima mereka di sekolah biasa dengan program khusus. Artinya mereka dapat mengikuti kelas biasa, namun disisi lain merekapun harus mengikuti program khusus sesuai dengan kebutuhan dan kapasitas mereka. Kurikulumpun mereka mengikuti kurikulum biasa, namun dengan implementasi yang “terpotong – potong”.
Namun demikian, sekolah inklusi tidaklah hanya sebatas untuk memberi kesempatan kepada anak – anak berkebutuhan khusus untuk menikmati pendidikan yang sama, namun hak berpendidikan juga untuk anak – anak lain yang kurang beruntung, misalnya anak dengan HIV/AIDS, anak – anak jalananan, anak yang tidak mampu (fakir – miskin), anak – anak korban perkosaan, korban perang dan lainnya, tanpa melihat agama, ras dan bahasanya.
Pendidikkan inklusi memang tengah bergerak, namun masih banyak ditemukan kendala untuk melaksanakannya. Dari fasilitas yang terbatas, misalnya fasilitas program khusus, seperti ruang terapi, alat terapi, maupun sumber daya manusia yang kapabel. Dilain pihak sekolah inklusi masih asing didengar oleh sebagia masyarakat kita. Bahkan tak jarang ada orang tua yang keberatan anaknya disatukan dalam satu kelas dengan anak berkebutuhan khusus, karena takut anaknya tertular.
Sekolah inklusi adalah sebuah metamorfosa budaya manusia yang semakin moderen dan menglobal. Bahwa setiap manusia adalah sama, punya hak yang sama dan kesempatan yang sama untuk berkembang dan mendapatkan pendidikan demi mengejar kehidupannya yang lebih baik. Tanpa melihat apakah warna kulitnya, rasnya, agama, maupun bawaan genetiknya, setiap orang berhak untuk sejajar dalam berkependidikan. Saya kira sekolah inklusi merupakan salah satu jawaban, bahwa pendidikan tak mengenal diskriminasi, bahwa semua berhak untuk mendapatkannya.
Walaupun demikian sampai saat ini, sekolah inklusi masih identik dengan mencampur anak berkebutuhan khusus dengan anak biasa. Padahal sekolah bisa disebut inklusi, jika kita dapat melihat anak secara individual dengan pendekatan individual, bukan klasikal. Saat ini, pendidikan kita masih melihat peserta didik dengan satu kaca mata, semua anak adalah sama. Padahal, setiap anak terlahir dengan membawa perbedaan dan keunikannya masing – masing. Artinya, setiap anak harus diberi ruang dan hak untuk berkembang sesuai dengan kapasitas yang dibawanya. Sekilas saya bisa melihatnya, bahwa sekolah inklusipun bisa bersesuaian dengan pendekatan multiple intelegences. Sebuah pendekatan pembelajaran yang sedang banyak dikembangkan pula.
Saya berharap banyak tumbuh sekolah inklusi tanpa harus terbeban dengan segala defenisinya. Sekolah inklusi merupakan sebuah prinsip persamaan hak manusia, dan juga jawaban dari perb