BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Perkembangan industri jasa yang sangat pesat menyebabkan persaingan bisnis jasa menjadi sangat tajam, baik dipasar domestik (nasional) maupun di pasar internasional/global. Untuk memenangkan persaingan, perusahaan harus mampu memberikan kepuasan kepada para pelanggannya, yaitu dengan menghasilkan kualitas pelayanan yang sesuai dengan harapan pelanggan. Salah satu contoh yang akan dibahas pada makalah ini adalah industri jasa non profit yakni di dunia pendidikan. Dunia pendidikan pasti membutuhkan seorang pemimpin yang mampu mengelola organisasi pendidikan ini dengan baik. Pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat membawa nilai-nilai positif kedalam organisasinya, dan berusaha menanamkan nilai-nilai positif itu pada setiap anggotanya. Dan pemimpin dikatakan berhasil mengelola organisasinya, ketika para anggotanya telah paham dan melaksanakan nilai-nilai positif itu serta menanamkan pada dunia kerja. Secara tidak langsung, pemimpin yang demikian merupakan pemimpin yang telah menerapkan teori kepemimpinan transformasional.
Kepemimpinan transformasional dapat diterapkan di organisasi manapun, dan sebagian besar organisasi membutuhkan seorang pemimpin yang transformatif. Normalnya, kepemimpinan transformatif diterapkan di setiap jenjang sekolah umum. Akan tetapi jika kepemimpinan transformasional diterapkan pada sekolah inklusif. Yakni sekolah yang mengintegrasikan anak dan remaja yang menyandang kecacatan fisik, sensori, atau intelektual kedalam sekolah reguler, atau hanya akses bagi anak yang terkucilkan. Inklusi merupakan sebuah proses dua arah untuk meningkatkan partisipasi para siswa dalam belajar dan mengidentifiksi serta mengurangi hambatan belajar (Astuti, Idayu: 2011; 8). Sehingga sekolah inklusif dapat dikatakan sekolah inklusif merupakan sekolah yang unik, beragam, dan penuh dengan pelajaran hidup dan belajar untuk saling asah, asih dan asuh antar teman sejawat. Keadaan yang beragam seperti itu tidak mudah untuk mengkondisikannya.
Kondisi yang sangat beragam seperti itu, pastinya membutuhkan sosok seorang pemimpin yang luar biasa dalam mengkondisikan sekolahnya. Untuk itu, yang kami bahas pada makalah ini adalah menerapkan kepemimpinan transformasional pada sekolah inklusif yang memiliki keunikan didalamya yakni beragam karakter, kemampuan, dan beragam latar belakang pula. Dan tipe pemimpin transformasional seberapa efektif jika diterapkan pada sekolah inklusif. Apakah justru semakin tidak efektif jika sekolah inklusif diterapkan tipe kepemimpinan yang transformatif.
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan di atas maka penulis tertarik untuk membuat sebuah karya ilmiah dengan judul yakni : “OPTIMALISASI PENERAPAN KEPEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL KEPALA SEKOLAH PADA SEKOLAH INKLUSIF”.

B. Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian dari Kepemimpinan Transformasional?
2. Bagaimana cara menerapkan Kepemimpinan Transformasional di Sekolah Inklusif yang efektif?

C. Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui deskripsi tentang Kepemimpinan Transformasional.
2. Untuk mengetahui penerapkan Kepemimpinan Transformasional di Sekolah Inklusif yang efektif?

D. Manfaat Penulisan
1. Manfaat bagi Kepala Sekolah Inklusif yakni dapat menerapkan kepemimpinan transformasional yang sesuai dengan kondisi sekolah tersebut.
2. Manfaat bagi guru dan siswa yakni mereka dapat merasakan efektifitas kepemimpinan yang tansformasional dan semakin mereka antusias dengan apa yang diharapkan pemimpin atau kepala sekolah.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Kepemimpinan Transformasional
Secara umum definisi kepemimpinan dapat dirumuskan sebagai berikut. “Kepemimpinan adalah kemampuan dan kesiapan yang dimiliki oleh seorang untuk dapat mempengaruhi, mendorong, memaksa orang atau kelompok agar menerima pengaruh tersebut dan selanjutnya berbuat sesuatu yang dapat membantu tercapainya suatu tujuan tertentu yang telah ditetapkan” (Rosmiati, Taty: 2009; 125). Kepemimpinan merupakan sumbangan dari sesorang di dalam situasi-situasi kerjasama. Kepemimpinan dan kelompok adalah merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan antara yang satu dengan yang lain. Tak ada kelompok, tanpa adanya kepemimpinan, dan sebaliknya kepemimpinan hanya ada dalam situasi interaksi kelompok. Seseorang tidak dapat dikatakan pemimpin jika ia berada di luar kelompok, ia harus berada di dalam suatu kelompok dimana ia memainkan peranan-peranan dan kegiatan-kegiatan kepemimpinannya.
Menurut Ralp M. Stogdill dalam Dadang Suhardan 2009, kepemimpinan adalah proses mempengaruhi kegiatan-kegiatan kelompok yang diorganisir menuju kepada penentuan dan pencapaian tujuan. Sedangkan menurut Sondang P. Siagian, Kepemimpinan merupakan motor atau daya penggerak daripada semua sumber, dan alat yang tersedia bagi suatu organisasi (Suhardan; 2009: 125).
Secara garis besar, dapat disimpulkan kepemimpinan yakni Suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya agar dapat bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
Berdasarkan kondisi-kondisi obyektif yang dialami pendidikan kita saat ini, maka tantangan utama yang dihadapi dari segi kepemimpinan adalah menciptakan pemimpin pada setiap level masyarakat yang mampu mengantar pendidikan ini keluar dari permasalahan klasik, dimana masih banyaknya pendidikan yang belum sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat, dan yang paling terpenting, semuanya kembali lagi pada manajemen pemimpinnya, karena pemimpin lah yang memegang kendali dari pendidikan. Dalam hal ini adalah kepemimpinan yang berada di sekolah yakni dipegang oleh seorang kepala sekolah.
Pendidikan membutuhkan perubahan atau sekurang-kurangnya kondisi yang memungkinkan perubahan itu terjadi. Dalam konteks pendidikan yang mendambakan perubahan yang bersifat fundamental menuju pada kemajuan yang diperlukan adalah kepemimpinan transformasional (transformational leadership).
Konsepsi kepemimpinan transformasional pertama kali dikemukakan oleh James McGregor Burns. Dalam kaitannya dengan kepemimpinan transformasional, Bernard Bass (Stone et al, 2004) mengatakan sebagai berikut: “Transformational leaders transform the personal values of followers to support the vision and goals of the organization by fostering an environment where relationships can be formed and by establishing a climate of trust in which visions can be shared”. Selanjutnya, secara operasional Bernard Bass (Gill et al, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: “Leadership and performance beyond expectations”. Sedangkan Tracy and Hinkin (Gill dkk, 2010) memaknai kepemimpinan transformasional sebagai berikut: “The process of influencing major changes in the attitudes and assumptions of organization members and building commitment for the organization’s mission or objectives”. (http://bangka.tribunnews.com diakses tanggal 27 Mei 2012).
Menurut Covey, 1989 (Peters, 1992), (Suhardan, 2009: 151), Pemimpin transformasional sesungguhnya merupakan agen perubahan, karena memang erat kaitannya dengan transformasi yang terjadi dalam suatu organisasi. Fungsi utamanya adalah berperan sebagai katalis perubahan, bukannya sebagai pengontrol perubahan. Seorang pemimpin transformasional memiliki visi yang jelas, memiliki gambaran holistic tentang bagaiman organisasi dimasa depan ketika semua tujuan dan sasarannya telah tercapai.
Sergeovanni, 1990: 21 (Suhardan, 2009: 152) berargumentasi bahwa makna simbolis dari tindakan seorang pemimpin transformasional adalah lebih penting dari tindakan aktual. Nilai-nilai yang dijunjung oleh pemimpin yang terpenting adalah segalanya. Artinya, ia menjadi model dari nilai-nilai tersebut, mentransformasikan nilai organisasi jika perlu untuk membantu mewujudkan visi organisasi. Elemen yang paling utama dari karakteristik seorang pemimpin transformasional adalah dia harus memiliki hasrat kuat untuk mencapai tujuan organisasi. Seorang pemimpin transformasional adalah seorang pemimpin yang memiliki keahlian diagnosis, dan selalu meluangkan waktu dan mencurahkan perhatian dalam upaya untuk memecahkan masalah dari berbagai aspek.

B. Implementasi Kepemimpinan Tranformasional di Sekolah Inklusif

Telah dijelaskan pada pengertian kepemimpinan transformasional diatas, yani dapat diambil garis besarnya bahwa pemimpin dengan kepemimpinan transformasional adalah kepemimpinan yang memiliki visi ke depan dan mampu mengidentifikasi perubahan lingkungan serta mampu mentransformasi perubahan tersebut ke dalam organisasi, memelopori perubahan dan memberikan motivasi dan inspirasi kepada individu-individu karyawan untuk kreatif dan inovatif, serta membangun team work yang solid, membawa pembaharuan dalam etos kerja kinerja manajemen, berani dan bertanggung jawab memimpin dan mengendalikan organisasi.
Menurut Stainback, 1996 (Astuti, 2011: 8), sekolah inklusif adalah sebuah sekolah yang menampung semua siswa dikelas yang sama, sementara Rose & Howley, 2007 (Astuti, 2011: 8), mengemukakan bahwa sekolah inklusif sebagai sekolah yang sistem layanan pendidikannya mempersyaratkan agar anak berkelaianan dilayani disekolah sesuai kemampuannya bersama-sama teman seusianya. Melalui pendidikan inklusif anak berbakat istimewa/cerdas istimewa dan anak berkelainan, dididik bersama anak-anak yang normal untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya.
Adapun inti tujuan pendidikan inklusif adalah pemenuhan hak asasi manusia atas pendidikan, tanpa didiskriminasikan, dengan member kesempatan anak-anak yang memiliki hambatan dalam belajarnya bebas sekolahdi sekolah umum. Implementasinya adalah semua anak mempunyai hak untuk menerima pendidikan yang tidak mendeskriminasikan dengan kecacatan, etnis, agama, bahasa, jenis kelamin, kemampuan, dan lain-lain. Sebagainmana disampaikan bahwa tujuan umum pendidikan inklusif adalah member kesempatan pendidikan yang berkualitas kepada semua anak tanpa terkecualian, sehingga semua anak memiliki kesempatan yang sama untuk secara aktif mengembangkan potensi pribadinya dalam lingkungan yang sama.
Kepala Sekolah inklusif yang transformatif dapat menerapkan beberapa konsep yang tertera pada gambar dibawah ini:

Gambar 1.1
Model Kepemimpinan Transformasional
Sumber: Bass dan Avolio, 1994 (Suhardan, 2009)
Rees (2001) menyatakan paradigma baru kepemimpinan transformasional mengangkat tujuh prinsip menciptakan kepemimpinan yang sinergis, yakni:
1. Simplifikasi, yakni keberhasilan dari kepemimpinan diawali dengan sebuah visi yang akan menjadi cermin dan tujuan bersama. Kemampuan serta keterampilan dalam mengungkapkan visi secara jelas, praktis dan tentu saja transformasional yang dapat menjawab “Ke mana kita akan melangkah?” menjadi hal pertama yang penting untuk kita implementasikan.
2. Motivasi, yakni kemampuan untuk mendapatkan komitmen dari setiap orang yang terlibat terhadap visi sudah dijelaskan adalah hal kedua yang perlu dilakukan. Pada saat pemimpin transformasional dapat menciptakan suatu sinergis di dalam organisasi, berarti seharusnya dia dapat mengoptimalkan, memotivasi dan memberi energi kepada setiap pengikutnya. Praktisnya dapat saja berupa tugas atau pekerjaan yang betul-betul menantang serta memberikan peluang bagi mereka pula untuk terlibat suatu proses kreatif, memberikan usulan mengambil keputusan dalam pemecahan masalah, hal ini akan memberikan nilai tambah bagi mereka sendiri,
3. Fasilitasi, yakni dalam pengertian kemampuan untuk secara efektif memfasilitasi “pembelajaran” yang terjadi di dalam organisasi secara kelembagaan, kelompok, ataupun individual. Hal ini akan berdampak pada semakin bertambahnya modal intelektual dari setiap orang yang terlibat di dalamnya,
4. Inovasi, yaitu kemampuan untuk secara berani dan bertanggung jawab melakukan suatu perubahan bilamana diperlukan dan menjadi suatu tuntutan dengan perubahan yang terjadi. Dalam suatu organisasi yang efektif dan efisien, setiap orang yang terlibat perlu mengantisipasi perubahan dan seharusnya pula mereka tidak takut akan perubahan tersebut. Dalam kasus tertentu, pemimpin transformasional harus sigap merespons perubahan tanpa mengorbankan rasa percaya dan tim kerja yang sudah dibangun,
5. Mobilitas, yaitu pengerahan semua sumber daya yang ada untuk melengkapi dan memperkuat setiap orang yang terlibat di dalamnya dalam mencapai visi dan tujuan. Pemimpin transformasional akan selalu mengupayakan pengikut yang penuh dengan tanggung jawab,
6. Siap Siaga, yaitu kemampuan untuk selalu siap belajar tentang diri mereka sendiri dan menyambut perubahan dengan paradigma baru yang positif,
7. Tekad, yaitu tekad bulat untuk selalu sampai pada akhir, tekad bulat untuk menyelesaikan sesuatu dengan baik dan tuntas. Untuk ini tentu perlu pula didukung oleh pengembangan disiplin spiritualitas, emosi, dan fisik serta komitmen.
Prinsip kepemimpinan transformasional yang sinergis seperti Gambar 2.2 dibawah ini:
Menurut Scaffner dan Buswell, 1991 (Astuti, 2011; 32) melihat pelaksanaan kepemimpinan kepala sekolah yang kuat dalam sepuluh unsure penting untuk menciptakan komunitas sekolah inklusif dan efektif. Dewan Administrator Pendidikan Khusus (CASE) dalam dokumen mereka “Agenda Masa Depan CASE untuk Pendidikan Khusus, yakni menciptakan Sistem Pendidikan yang menyatu dengan merekomendasikan tindakan-tindakan berikut: (1) Tanggung jawab sebagai pengurus untuk semua siswa; (2) Pengembangan visi dan misi untuk sistem yang menyatu yang termasuk semua siswa; (3) Tanggung jawab melalui sistem hasil yang menyatu; (4) Persiapan semua pendidik untuk mendidik semua siswa; (5) Sistem pendanaan yang menyatu menekankan sumber yang berbeda tanpa label; (6) Manajemen lingkungan sebagai sarana pembentukan komunitas siswa; (7) Struktur kurikulum yang menyatu sebagai sarana untuk melaksanakan dialog tentang hasil perencanaan dan pengaturan; (8) Pengembanagn staf yang mendukung penyelesaian masalah penting, sumber yang berbeda dan perbaikan yang terus menerus; (9) akses untuk pelayanan komunitas yang menyatu atau didekat lingkungan sekolah; (10) Akses pada dan pelatihan teknologi yang tepat.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Kepemimpinan merupakan suatu kemampuan dan kesiapan seseorang untuk mempengaruhi, membimbing, mengarahkan, dan menggerakkan orang-orang yang dipimpinnya agar dapat bekerja secara efektif untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Sedangkan kepemimpinan transformasional adalah pemimpin yang mampu membawa organisasi ke arah perubahan dan mampu menyebarkan nilai-nilai positif kepada anggotanya. Nilai-nilai positif tersebut merupakan visi organisasi.

2. Kepala sekolah inklusif yang transformatif yakni kepala sekolah yang mampu melaksanakan prinsip kepemimpinan transformasional yakni Simplifikasi, Motivasi, Fasilitasi, Inovasi, Mobilitas, Tekad, dan Siap Siaga.

B. Saran
1. Untuk Kepala Sekolah, diharapkan mampu menjadi pemimpin yang transformatif agar dapat menciptakan budaya sekolah yang meiliki nilai-nilai kearah tujuan/visi sekolah.

2. Untuk warga sekolah, diharapkan mampu mengikuti apa yang direncanakan oleh kepala sekolah dalam hal mentransformasikan budaya sekolah inklusif agar mampu menjadi sekolah inklusif yang unggul dan sekoalh yang ramah siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2012. Mendambakan Kepemimpinan Transformasional. http://bangka.tribunnews.com (diakses pada tanggal 27 Mei 2012)

Anonim. Kepemimpinan Transformasional. http://www.stialanbandung.ac.id (Diakses pada tanggal 27 Mei 2012)

Anonim. 2011. Kepemimpinan Transformasional. http://masimamgun.blogspot.com (Diakses pada tanggal 28 Mei 2012)

Astuti, Idayu. 2011. Kepemimpinan Pembelajaran Sekolah Inklusif

Danim, Sudarwan. 2006. Visi Baru Manajemen Sekolah. Jakarta; Bumi Aksara

Suhardan, Dadang. 2009. Manajemen Pendidikan. Bandung; Alfabeta