A. Pengertian Sekolah Inklusi
Sekolah Inklusi adalah : Model terapi dengan melibatkan anak berkebutuhan khusus (ABK) kedalam kelas-kelas umum [anak non ABK] dengan model pendampingan satu terapis, satu anak (one on one) disepanjang jam belajar atau jam-jam khusus anak belajar diruang tertentu (resource room).
B. Berdirinya Sekolah Inklusi
Sekolah Inklusi ini berdiri tidak secara langsung berdiri dan sudah ada, namun perlu diketahui bahwa ada beberapa tahapan untuk menjadikan sekolah Inklusi tersebut yaitu:
1. Sekolah Inklusi berdiri dengan acuan EDUCATION FOR ALL
Kita semua sadar bahwa Kebijakan pemerintah dalam penuntasan Wajib Belajar Pendidikan Dasar Sembilan tahun disemangati oleh seruan Internasional Education For All (EFA) yang dikumandangkan UNESCO. Sebagai kesepakatan global hasil World Education Forum di Dakar, Sinegal tahun 2000, penuntasan EFA diharapkan tercapai pada tahun 2015. Seruan ini senafas dengan semangat dan jiwa pasal 31 UUD 1945 tentang hak setiap warga negara untuk memperoleh pendidikan dan pasal 32 UUSPN no. 20 tahun 2003 tentang pendidikan khusus dan pendidikan layanan khusus (Mudjito, 2004).
2. Sudah mulai dirintis Sekolah Inklusi (tahap percobaan)
Setelah Kepala Sekolah sudah mencanankan EFA ( Education For All ) maka saat nya Kepala Sekolah mulai merintis Sekolah Inklusi tersebut, dengan acuan bahwa disekitar daerahnya tersebut banyak sekali anak-anak yang membutuhkan bantuan khusus (ABK). Dengan harapan mereka dapat bersekolah tanpa membawa beban bahwa mereka adalah anak yang abnormal, tetapi dengan mulai merintis sekolah inklusi ini ingin mengetahui seberapa menerima kah warga sekolah dengan kehadiran anak yang notabe nya membutuhkan bantuann khusus.
3. Kepala Sekolah mengajukan Proposal kepada pemerintah
Setelah mengadakan percobaan dan berlangsung beberapa bulan dan sepertinya (mereka) anak yang memerlukan bantuan khusus itu merasa dirinya nyaman di sekolah tersebut dan dapat mengikuti pembelajaran dengan baik, maka tugas Kepala Sekolah selanjutnya adalah mengajukan proposal kepada pemerintah bahwa sekolah ini sudah siap untuk diresmikan menjadi sekolah inklusi.
Kerangka dari proposal itu sendiri adalah :
Penyusunan Position Paper Peningkatan dan Pengembangan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi, meliputi :
* Pengertian
* Tujuan
* Tema
A. Pendahuluan
1. Data Demografis
2. Data Pendidikan dan Program Inklusi
B. Kebijakan Daerah dalam Pendidikan Inklusi
1. PP yang terkait Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
a.Perda terkait pendidikan Program Inklusi
b. SK Bupati tentang Pendidikan Inklusi
c. Edaran, kebijakan pelaksanaan Pendidikan Inklusi
d. Permasalahan dan hambatan yang terkait dengan PP dan Kebijakan
2. Pembiayaan dan Sumber dana ( APBD,APBN dan sumber lain )
C. Potret Penyelenggaraan dan Perkembangan Pendidikan Inklusi
1. Kondisi dan Penyelenggaraan Program Pendidikan Inklusi
a. Kinerja, profil dan data sekolah inklusi
b. Kinerja, profil dan data sekolah akselerasi
2. Hambatan dan Permasalahan Penyelenggaraan Pendidikan Inklusi
D. Usulan Rencana Pengembangan Penyelenggraan Pendidikan
• Visi dan Misi
• Tujuan dan Sasaran Pengembangan
• Arah Kebijakan dan Strategi
• Usulan Program dan Kegiatan
a. Program unggulan
b. Daftar usulan kegiatan
E. PENUTUP

4. Pemerinatah menyetujui
Setelah Kepala Sekolah mengajukan proposal dan dengan harapan besar sekolah nya di setujui untuk menjadi sekolah inklusi, kemungkinan besar bahwa pemerintah menyetujuinya, pemerintah juga melihat kinerja guru beserta kepala sekolahnya apakah maksimal jika sekoalh tersebut resmi menjadi sekolah inklusi dan pemerintah juga melihat kondisi daerah tersebut apakah banyak anak yang tidak bersekolah hanya dengan alasan mereka memerlukan bantuan khusus dalam pendidikannya.
5. Mendapat SK ( Surat Keterangan ) dari pemerintah
Setelah pemerintah menyetujui bahwa sekolah tersebut layak menjadi sekolah inklusi, mak pemerintah wajib memberikan SK (Surat Keterangan) bahwa sekolah tersebut sudah layak dan resmi menjadi sekolah inklusi.
6. Resmi sekolah tersebut menjadi Sekolah Inklusi
Setelah mendapatkan SK dari pemerintah setempat maka itu tandanya bahwa sekolah tersebut sudah layak dan resmi untuk menjadi sekolah inklusi. Maka setelah itu, sekolah tersebut wajib menjalankan tugasnya sebagai sekolah inklusi apapun yang terjadi sekolah tersebut harus bisa melayani ank umum maupun anak yang memerlukan bantuan khusus dalam pendidikannya.

C. Hambatan yang dialami setelah sekolah inklusi berdiri
Setelah Sekolah tersebut sudah dikatakan layak dan resmi untuk menjadi sekolah inklusi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan selama ini, ternyata banyak sekali hambatan-hambatan baik dari masyarakat sekita termasuk orang tua wali murid anak yang umum, guru-guru pengajar, bahkan siswa-siswanya sendiri pun merasa kurang nyaman dengan kehadiran teman-teman barunya yang tidak diharapkan masuk sekolah ini.
Menurut pengamatan bahwa:
30% guru pengajar merasa kurang nyaman dengan kehadiran anak didiknya yang berkebutuhan khusus, alasan mereka adalah sangat susah dan merepotkan jika dalam kelas terdapat anak yang abnormal, mereka juga merasa sangat susah mengajar anak yang abnormal.
40% masyarakat termasuk orang tua wali murid dari anak-anak yang umum kurang ada kenyamanan dengan datangnya anak yang abnormal tersebut karena mereka merasa bahwa anak-anak mereka adalah anak yang pintar-pintar dan tidak pantas jika anak mereka berteman dengan anak ayng abnormal dan merasa anak mereka adalah anak suci, normal, baik dsb.
40% Siswa sendiri kurang nyaman dengan datangnya teman-teman mereka yang tidak diharapkan, karena mereka merasa anak yang sempurna, tidak kurang suatu apapun dan mereka berusaha menjauhi dan menyisihkan teman-teman mereka yang berkebutuhan khusus.
Lebel yang diterima oleh lembaga : Bahwa sekolah inklusi dianggap sekolah bagi anak buangan, nakal dan banyak lagi konsep negetif mewarnai lembaga tersebut. Dan berusaha menjahui anak-anak yang memerlukan bantuan khusus, padahal sebaliknya, mereka sebenarnya mempunyai prestasi yang hebat dan tidak dimiliki oleh orang normal sendiri.

D. Cara untuk mengatasi hambatan tersebut
1. Menyusun Program Kerja untuk Sekolah Inklusi dengan sasaran guru dan kepsek / tokoh masyarakat dan perangkat desa
2. Membuat perizinan kepada Kecamatan setempat bahwa akan mengadakan sosialisasi ke masyarakat sekitar
3. Memberikan sosialisasi kepada masyarakat kecamatan sekitar dengan sasaran seperti ibu-ibu PKK, ibu-ibu Dharma Wanita yang intinya di sekitar kecamatan setempat
4. Membuat perizinan kepada Kepala Desa setempat bahwa akan mengadakan sosialisasi kepada warga desa setempat
5. Memberikan sosialisasi kepada masyarakat beberapa desa setempat dengan sasaran seperti ibu-ibu perkumpulan suatu organisasi, para remaja karang taruna, dll

E. Sosialisasinya melalui 3 tahap yaitu :

1. FOCUS
Sosialisasai dengan model ini sangat sudah sering dilakukan oleh para penyuluhan-penyuluhan yang lain

Narasumber

PESERTA

Dengan model seperti ini, maka peserta akan focus kepada satu arah yaitu ke narasumbernya akan tetapi model seperti ini perlu diterapkan dengan catatan tidak boleh monoton dan harus ditambahi dengan bentuk yang ke dua yaitu

2. GROUP
Setelah dilakukan dengan cara yang nomor satu, maka setelah itu ajak peserta untuk membentuk suatu grup yang berisi empat sampai lima anggota dan beri mereka suatu kasus mengenai sekolah inklusi, ajak mereka merasakan juga nasib anak-anak berkebutuhan khusus. Contohnya :”Jika ibu adalah salah satu orang tua / wali murid dari anak yang berkebutuhan khusus dan di daerah ibu kebetulan tidak disediakan Sekolah Luar Biasa, dan disitu hanya ada Sekolah Dasar Negeri Inklusi. Apa yang akan ibu lakukan jika ibu adalah orang yang peduli akan penddidkan anak ibu? “

GRUP A GRUP B GRUP C GRUP D

3. DISCUSSION
Setelah melakukan dua cara diatas, maka cara yang terakhir adalah diskusi, ajak mereka sharing tentang sekolah inklusi. Bebaskan mereka saling memberi argument dan solusi, berilah mereka stimulus agar diskusi semakin ramai dan meriah akan tetapi tidak terlepas dari tujuan utama yaitu meluruskan pikiran mereka tentang sekolah inklusi.

F. Hasil yang Diperoleh setelah melakukan Sosialisasi
Mereka saling asah,asih dan asuh dalam pelaksanaan OutBound Activities. Para siswa sekarang tidak lagi membedakan mana temannya yang normal, dan mana temannya yang abnormal. Mereka menganggap semua temannya adalah sama.
”Tadinya kami adalah anak-anak yang terbuang, terisolasi, tak pernah terjamah kasih sayang, kepedulian dan rasa penghargaan”
“Namun setelah kami mendapat pengakuan sebagai anak yang UNIK, yang membutuhkan motivasi agar potensi, bakat dan kemampuan kami tergali, maka Alhamdulillah banyak perubahan pada diri kami yaitu menjadi anak-anak yang manfaat, memberikan yeng terbaik untuk Orang tua, Guru, masyarakat sekitar”
Inilah jeritan hati anak-anak yang memerlukan bantuan khusus, mereka merasakan hal semacam ini akan tetapi mereka memendamnya sendiri selama ini. Dan sekarang mereka mengetahui bahwa sebenarnya di dalam diri mereka ada sebuah prestasi ayng sangat membanggakan yang orang lain tidak memilikinya. Mereka diberikan wadah untuk mengekspresikan kegiatan mereka melewati teater, pantomim, ke pramukaan, dll.