ABSTRAK
Pendidikan adalah daya upaya untuk memajukan kemampuan anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Untuk itu, semua orang tanpa membedakan kondisi fisiknya berhak mendapatkan pendidikan yang layak ditempat yang sama. Akan tetapi pada kenyataannya sekarang pendidikan hanya untuk beberapa golongan tertentu yang memiliki kondisi fisik sempurnalah yang berhak untuk sekolah di tempat yang eksklusif. Setelah Deklarasi Bangok Menteri Pendidikan telah mengakui adanya pendidikan keserataan yakni pendidikan inklusif sebagai wujud dari education for all menuju pendidikan yang berkualitas.

Kata Kunci : education for all, pendidikan inklusif, sekolah berkualitas.

Pendidikan yang berkualitas pada dasarnya adalah milik semua orang, tanpa melihat kaya atau miskin, tua atau muda, bahkan orang yang normal dengan orang berkebutuhan khusus. Sehingga pendidikan dapat dinikmati oleh semua orang tanpa terkecuali, sesuai dengan semboyan Ki Hajar Dewantara yakni kembali ke hakekat pendidikan. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak agar dapat memajukan kesempurnaan hidup. Anak harus ‘dihidupkan’ agar perilakunya selaras dengan alam dan masyarakatnya (YogyaBangkitNews;3 Juli 2007). Artinya, pendidikan adalah hak semua anak untuk belajar menjadi sehat rohani maupun jasmani agar hidupnya lebih sempurna. Akan tetapi, pada kondisi sekarang.
Selain mengacu pada semboyan Ki Hajar Dewantara, telah dituliskan di Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 pada pasal 28c ayat 1 yang berisi tentang
“Setiap orang berhak mengembangkan diri melalui pemenuhan kebutuhan dasarnya, berhak mendapat pendidikan dan memperoleh manfaat dari ilmu pengetahuan dan teknologi, seni dan budaya, demi meningkatkan kualitas hidupnya dan demi kesejahteraan umat manusia (UUD RI 1945 Pasal 28 C ayat 1). “

Sudah sangat jelas bahwa setiap orang berhak mendapatkan pendidikan dalam rangka mengembangkan dirinya untuk menjadi manusia yang sejahtera. Jadi, dapat ditarik kesimpulan bahwa seseorang yang belum mendapatkan pendidikan maka orang tersebut belum dikatakan sejahtera.
Pada Deklarasi Bangkok dari Konfrensi Menteri Pendidikan Asia Tenggara telah mengakui bahwa proyek SEAMEO yang sedang berjalan tentang “Kualitas dan kesetaraan dalam pendidikan” menyoroti kekhawatiran kita untuk memenuhi hak semua anak untuk mendapatkan pendidikan dasar yang berkualitas baik. Definisi yang komprehensif dari kualitas dan kesetaraan dalam pendidikan termasuk; (a) Pendidikan inklusif; (b) Pendididkan yang responsive terhadap jender; dan (c) Lingkungan belajar yang protektif dan sehat (Deklarasi Bangkok Menteri Pendidikan Asia Tenggara; 2004)
Akan tetapi, pada kenyataannya di beritakan di Jogya Bangkit News edisi 3 Juli 2007 bahwa Dalam perkembangan pendidikan di Indonesia mengalami proses komodifikasi. Ada pergeseran paradigma dari pendidikan untuk semua berubah menjadi pendidikan bagi mereka yang memiliki uang banyak saja. Perkembangan ini tentu bertentangan dengan cita-cita Ki Hajar Dewantara, sebab hanya anak dari keluarga kaya saja yang dapat mengenyam pendidikan. Konstitusi kita sudah menjamin hak pendidikan bagi semua warga negara, tanpa kecuali. Bahkan Negara mewajibkan semua warganya untuk mengikuti pendidikan dasar. Sesuai dengan UU No.20 tentang Sistem Pendidikan nasional (Sisdiknas) pasal 46 ayat 1, pembiayaan pendidikan ditanggung negara.
Pergeseran paradigma yang seperti itu juga muncul ketika pendidkan inklusif diperkenalkan, hal itu dipandang seperti ulat yang memakan daun, buah, dan pohon pendidikan khusus. Ide untuk membuat pendidikan inklusi ini mendapat skeptisme dan penolakan dari bebebrapa orang yang mengatakan bahwa: (a) Inklusi hanyalah istilah lain untuk pendidikan terpadu, sebuah konsep yang telah lama di implementasikan di Indonesia; (b) inklusi akan menghilangkan pekerjaan guru-guru pendidikan khusus; (c) Inklusi hanaya dapat di laksanakan di Negara-negara yang jumlah siswa perkelasnya sedikit, sehingga memungkinkan pembelajaran individual, tetapi tidak untuk Indonesia yang memiliki kelas-kelas besar; dan (d) Inklusi hanya bergantung pada gaji guru yang tinggi (Sholeh,2006:14).
Namun demikian, menurut Moch.Sholeh (2006), setelah kegiatan sosialisasi, lokakarya, dan diskusi, banyak orang kemudian menyadari bahwa; (a) Konsep inklusi terkait erat dengan banyak nilai yang ada di masyarakat Indonesia; (b) Di masa mendatang dibutuhkan lebih banyak guru dengan pengetahuan dan pengalaman tentang anak-anak dengan kebutuhan pendidikan khusus mendukung guru dan anak-anak di sekolah inklusif; (c) Peralihan dari segregasi ke inklusi mungkin memang sulit dilakukan, tetapi itu adalah satu-satunya cara menuju Pendidikan Untuk Semua atau Education For All (EFA); (d) Inklusi dapat berhasil di kelas-kelas besar; (e) Guru-guru kita dapat menjadi guru-guru yang baik kita perlu mempercayai dan memeberdayakan mereka; dan (e) Kita semua menginginkan guru mendapat gaji lebih besar, tapi kita tidak boleh lupa bahwa beberapa guru terbaik bekerja di sekolah-sekolah desa dengan gaji rendah.
Pada konteks ini, yang dimaksud Pendidikan untuk semua atau Education For All adalah pendidikan untuk semua kondisi anak, tidak membeda-bedakan kondisi fisik maupun mental seorang anak, anak yang memiliki kebutuhan khusus, juga berhak bersekolah di sekolahnya anak yang normal. Karena mereka memiliki hak yang sama untuk belajar dalam satu atap yang dikemas dalam satu wadah yakni pendidikan inklusif.
Pertanyaan pokok yang muncul dari beberapa penjelasan diatas adalah: bagaimanakah pelaksanaan program EFA yang diterapkan di sekolah inklusi, apak sudah berjalan maksimal dengan adanya kontrofersi terhadap pendididkan inklusi itu sendiri? Dalam makalah ini akan diuraikan hal-hal berikut mengenai (Education For All) pada sekolah inklusif: (1) Konsep Pendidikan Inklusif; (2) Penerapan Education For All pada sekolah inklusif.

PEMBAHASAN
Konsep Pendidikan Inklusif
Istilah terbaru yang dipergunakan untuk mendeskripsikan penyatuan bagi anak-anak berkelainan (penyandang hambatan/cacat) ke dalam program –program sekolah adalah inklusi (dari kata bahasa inggris: inclusion-peny). Bagi sebagian besar pendidik, istilah ini dilihat sebagai deskripsi yang lebih positif dalam usaha-usaha menyatukan anak-anak yang memiliki hambatan dengan cara-cara yang realistis dan komprehensif dalam kehidupan pendidikan yang menyeluruh (Smith, 2012; 45)
Menurut Miriam Donath Skjorten (Mboi, 2006; 46) dalam sebuah sekolah yang menuju inklusi kualitas pendidikan seharusnya disediakan dalam lingkungan yang ramah terhadap pembelajaran, dimana mengalami, merangkul, dan mengenal keaneka ragaman sebagai cara untuk memperkaya semua yang terlibat. Kurikulum, metode dan pendekatan pengajaran dikarakteristikan dengan menekankan pada aspek sosial pembelajaran, dialog, kesensitifan terhadap kebutuhan dan ketertarikan anak, cara berbagi dari pada sekedar bersaing dan kreatif dan guru yang mudah dan manajemen kelas. Seluruh anak, juga anak yang mengalami hambatan dalam belajar, perkembangan dan partisipasi termasuk anak-anak penyandang cacat, mempunyai hak yang sama untuk kualitas pendidikan dalam sebuah sekolah yang dekat dari rumahnya dan sesuai untuk usianya.
Menurut Woolfolk dan Kolter (Astuti, 2011; 9), pendidikan inklusif berarti pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau kondisi lainnya. Pendidikan inklusifmencakup anak-anak yang memiliki hambatan dalam belajar, anak cerdas dan berbakat istimewa.
Suatu lingkungan yang inklusif, dan ramah terhadap pembelajaran adalah lingkungan yang menerima, merawat, dan mendidik semua anak tanpa memandang perbedaan jenis kelamin, fisik, intelektual, social, emosional, linguistic, atau karakteristik lainnya. Mereka bisa saja anak yang cacat atau berbakat, anak jalanan atau pekerja, anak dari orang-orang desa atau nomadik, anak dari minoritas budayanya atau etnisnya, linguistiknya, anak-anak yang terjangkit HIV/AIDS, atau anak-anak dari area atau kelompok yang lemah dan termarginalisasi lainnya (Mboi, 2006; 47)
Menurut Rose dan Howley (Astuti, 2011; 8) mengemukakan bahwa sekolah inklusif sebagai sekolah yang sistem layanan pendidikannya mempersyaratkan agar anak berkelainan dilayani di sekolah sesuai kemampuannya bersama-sama teman seusianya. Melalui pendidikan inklusif anak berbakat istimewa/cerdas istimewa dan anak berkelainan, dididik bersama-sama anak-anak lainnya yang normal untuk mengoptimalkan potensi yang dimilikinya. Hal ini dilandasi oleh kenyataan bahwa dalam masyarakat terdapat anak cerdas istimewa/berbakat istimewa, anak-anak normal dan anak-anak berkelainan, yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan sebagai suatu komunitas manusia dan sebagai makhluk sosial.
Definisi Pendidikan Inklusif yang dirumuskan dalam Seminar Agra disetujui oleh 55 peserta dari 23 negara (terutama dari ‘Selatan’) pada tahun 1998. Definisi ini kemudian diadopsi dalam South African White Paper on Inclusive Education dengan hampir tidak mengalami perubahan: Definisi Seminar Agra dan Kebijakan Afrika Selatan Pendidikan Inklusif adalah: (a) Pendidikan yang lebih luas daripada pendidikan formal mencakup: pendidikan di rumah, masyarakat, sistem nonformal dan informal; (b) Pendidikan Inklusif mengakui bahwa semua anak dapat belajar; (c) Memungkinkan struktur, sistem dan metodologi pendidikan memenuhi kebutuhan semua anak; (c) Mengakui dan menghargai berbagai perbedaan pada diri anak dari segi usia, jender, etnik, bahasa, kecacatan, status HIV/AIDS, dan lain-lain; (d) Merupakan proses yang dinamis yang senantiasa berkembang sesuai dengan budaya dan konteksnya (Stubbs, 2002; 38).
Dari beberapa pengertian tentang pendidikan inklusif diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan inklusif adalah pendidikan yang berlandaskan pendidikan untuk semua dimana tidak membeda-bedakan kemampuan, kelompok etnis, ukuran, usia, kecacatan, dan gender. Dan seluruh anak yang memiliki beberapa perbedaan diatas dapat dinaungi dalam satu wadah dengan harapan agar mereka saling melengkapi satu sama lain, yang mengarahkan mereka pada pembelajaran di masyarakat yang sesungguhnya, dan suatu saat manusia akan menemui hal yang demikian.
Tujuan yang ingin dicapai oleh anak dalam mengikuti kegiatan belajar dalam seting inklusif antara lain adalah: (a) Berkembangnya kepercayaan pada diri anak, merasa bangga pada diri sendiri atas prestasi yang diperolehnya; (b) Anak dapat belajar secara mandiri dengan mencoba memahami dan menerapkan pelajaran yang diperoleh di sekolah kedalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya; (c) Anak mampu berinteraksi secara aktif bersama teman-temannya, bersama guru-guru yang berada di lingkungan sekolah dan masyarakat; (d) Anak dapat belajar untuk menerima apa adanya perbedaan, dan mampu beradaptasi dalam mengatasi perbedaan tersebut, sehingga secara keseluruhan anak menjadi kreatif dalam pembelajaran (Astuti, 2011; 12).

Pendidikan Inklusif Berbasis Education For All (Pendidikan Untuk Semua)
Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwa pendidikan inklusif merupakan pendidikan yang berlandaskan prinsip pendidikan untuk semua dimana tidak membeda-bedakan kemampuan, kelompok etnis, ukuran, usia, kecacatan, dan gender. Yang perlu ditambahkan disini adalah, dalam pendidikan inklusif tidak harus anak yang memiliki kecacatan fisik maupun mental atau anak yang kemampuannya jauh dibawah teman-teman seusianya.Akan tetapi pendidikan inklusif juga terdapat anak yang berbakat.
Menurut Murtadlo (2004; 1), Berbakat adalah sebutan anak yang tergolong cerdas meliputi Genius, Gifted, dan Superior. Tiga macam klasifikasi ini merupakan golongan anak yang kecerdasannya berada diatas rata-rata dengan patokan memiliki tingkat kecerdasan atau IQ kurang lebih 110-200. Meskipun tiga klasifikasi itu secara rangking menunjukkan perbedaan tingkat, namun kenyataannya semacam sistem pendidikan yang diterapkan kepada mereka adalah sama bentuknya, hanya pelaksanaannya harus disesuaikan dengan kondisi kemampuan mereka yang relatif tidak selalu homogen antara satu dengan yang lainnya.
Dengan demikian, pendidikan inklusif benar-benar terapan dari Pendidikan Untuk Semua yang bukan hanya milik golongan tertentu, tetapi milik semua manusia dan pendidikan inklusif bukanlah tempat-tempat orang yang terbuang, akan tetapi justru malah disitulah tempat orang-orang yang spesial karena memiliki beragam kemampuan. Mulai dari kemampuan yang unik yang biasanya menarik perhatian guru, kemapuan sedang, dan bahkan ada yang kemampuannya diatas rata-rata.
Pendidikan Untuk Semua (PUS) atau dalam istilah bahasa Inggris yakni Education For All (EFA) yang telah disepakati oleh para Menteri Pendidikan Asia Tenggara pada Deklarasi Bangkok yang telah mengakui salah satu dari wujud EFA adalah Pendidikan Inklusif yang telah diterapkan di beberapa sekolah yang telah siap. Sedangkan tujuan umum dari pada EFA yang diadopsi Forum Pendidikan Dunia, Dakar, April 2000, untuk periode 2002-2015 yakni: (1) Memperluas dan memperbaiki perawatan dan pengembangan Anak Usia Dini secara komprehensif, khususnya anak yang paling rawan dan kurang beruntung; (2) Menjamin semua anak pada tahun 2015, khususnya anak perempuan, anak dalam keadaan yang susah dan anak-anak kelompok minoritas, harus mendapat akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bermutu dengan gratis; (3) Menjamin semua kebutuhan belajar bagi anak-anak muda dan orang-orang dewasa dipenuhi melalui kesempatan yang sama untuk memperoleh program-program pembelajaran dan keterampilan kehidupan; (4) Mencapai perbaikan tingkat keaksaraan orang dewasa sekitar 50% pada tahun 2015, khususnya wanita, dan kesamaan akses pendidikan dasar dan pendidikan berkelanjutan bagi semua orang dewasa; (5) menghilangkan perbedaan gender di pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005, dan mencapai kesetaraan gender dalam pendidikan pada tahun 2015, dengan focus terjaminnya semua anak perempuan untuk mendapatkan akses penuh dan setara serta prestasi dalam pendidikan yang bermutu; (6) Memperbaiki semua aspek mutu pendidikan dan menjamin keunggulan semua sehingga hasil belajar yang diakui dan terukur dapat dicapai oleh semua, khususnya dalam keaksaraan, keterampilan berhitung serta keterampilan hidup.
Melihat pada beberapa tujuan umum adanya EFA yang ada hubungannya dengan pendidikan demokratis di sekolah inklusi khususnya. Menurut Yamin (2009; 211), demokrasi sangat menghargai perbedaan tujuan hidup. Dengan demikian, hal penting yang harus mendapat penekanan adalah demokrasi melindungi kebebasan dan kemerdekaan setiap pribadi untuk mengaktualisasikan diri secara taken for granted. Demokrasi memberikan pengakuan diri secara publik pada setiap pribadi untuk berpendapat dan mengekspresikan diri. Setiap pribadi memiliki hak atas kepentingan dirinya sendiri sehingga tidak ada yang memberikan intervensi.
Kembali pada pendidikan inklusif yang merupakan salah satu aplikasi dari pendidikan untuk semua atau education for all yang mengarah pada persamaan hak perlakuan pengajaran di kelas antara anak normal, berkebutuhan khusus, kemampuan rata-rata, dan kemampuan sangat tinggi. Dari beberapa golongan diatas, dijadikan dalam satu rumpun ayng dinamakan pendidikan inklusif. Dari persamaan hak pengajaran yang diberikan oleh guru, akan menentukan mutu pendidikan inklusif tersebut, karena tujuan dari pada aplikasi Pendidikan Untuk Semua yakni Pendidikan Inklusif adalah semata-mata ditujukan pada peningkatan kualitas pendidikan Indonesia.
Pendidikan yang bermutu lah yang diharapkan oleh pemerintah, sehingga mencanankan Program Pendidikan Untuk Semua yang salah satu aplikasinya yakni Pendidikan Inklusif. Menurut Crosby (Hadis; 2010, 85) mutu ialah conformance to requirement, yaitu sesuai dengan yang disyaratkan atau distandarkan. Suatu produk memiliki mutu apabila sesuai dengan standar atau kriteria mutu yang telah ditentukan, standar mutu tersebut meliputi bahan baku, proses produksi, dan produk jadi.
Sedangkan Standar mutu yang tercantum pada indicator Mutu Proses dan hasil belajar mengajar di kelas yakni; (1) Guru melakukan pengelolaan kelas; (2) Guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk bertanya; (3) Guru mengadakan pengajaran di kelompok kecil; (4) Guru mengajar atas dasar perbedaan individu; (5) Guru mengembangkan kreatifitas siswa; (6) Guru menilai sikap dan perilaku kerjasama siswa dalam mengikuti proses belajar mengajar; (7) Guru memberikan tugas belajar kepada siswa baik individual maupun kelompok (Hadis; 2010, 89).
Selain indikator yang ada diatas, untuk menjadikan pendidikan inklusif yang bermutu adalah menjadikan guru yang efektif bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus. Menurut Wong, Kauffman dan Lloyd (Smith; 2012, 123) memberikan ciri-ciri mengenai guru yang efektif bagi siswa penyandang hambatan dikelas regular yakni: (1)Mempunyai harapan bahwa siswa akan berhasil; (2)Memberi pengawasan yang sering pada tugas-tugas sekolah siswa serta member umpan balik; (3)Memberikan penjelasan standart-standart, arahan, dan harapan pembelajaran; (4)Fleksibel dalam mengangani siswa; (5)Mempunyai komitmen dalam memperlakukan tiap siswa secara terbuka; (6)Bersifat responsif terhadap pertanyaan dan komentar siswa; (7)Melakukan pendekatan tersusun dengan baik dalam pengajaran; (8)Bersikap hangat, sabar, humoris, kepada siswa; (9)Bersifat teguh dan konsisten dalam pengharapan-pengharapan.
Dengan adanya indikator pengajaran dikelas inklusif yang bermutu serta sifat yang harus dilakukan oleh guru dalam proses mengajar di kelas inklusif akan mengarah pada ketercapaian Education For All atau Pendidikan Untuk Semua.

PENUTUP
Kesimpulan
Pendidikan inklusif adalah pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa memandang kondisi fisik, intelektual, sosial, emosional, atau kondisi lainnya. Pendidikan inklusifmencakup anak-anak yang memiliki hambatan dalam belajar, anak cerdas dan berbakat istimewa. Tujuan yang ingin dicapai oleh anak dalam mengikuti kegiatan belajar dalam seting inklusif antara lain adalah: (a) Berkembangnya kepercayaan pada diri anak,; (b) Anak dapat belajar secara mandiri dengan mencoba memahami dan menerapkan pelajaran yang diperoleh di sekolah kedalam kehidupan sehari-hari di lingkungannya; (c) Anak mampu berinteraksi secara aktif bersama teman-temannya, bersama guru-guru yang berada di lingkungan sekolah dan masyarakat; (d) Anak dapat belajar untuk menerima apa adanya perbedaan, dan mampu beradaptasi dalam mengatasi perbedaan tersebut, sehingga secara keseluruhan anak menjadi kreatif dalam pembelajaran.
Tujuan umum dari pada (Education For All) EFA yang diadopsi Forum Pendidikan Dunia, Dakar, April 2000, untuk periode 2002-2015 yakni: (1) Memperluas dan memperbaiki perawatan dan pengembangan Anak Usia Dini secara komprehensif; (2) Menjamin semua anak pada tahun 2015, khususnya anak perempuan, anak dalam keadaan yang susah dan anak-anak kelompok minoritas, harus mendapat akses dan menyelesaikan pendidikan dasar yang bermutu dengan gratis; (3) Menjamin semua kebutuhan belajar bagi anak-anak muda dan orang-orang dewasa dipenuhi melalui kesempatan yang sama untuk memperoleh program-program pembelajaran dan keterampilan kehidupan; (4) Mencapai perbaikan tingkat keaksaraan orang dewasa sekitar 50% pada tahun 2015; (5) menghilangkan perbedaan gender di pendidikan dasar dan lanjutan pada tahun 2005; (6)Memperbaiki semua aspek mutu pendidikan. Untuk mencapai Pendidikan yang berkualitas perlu adanya guru yang efektif bagi siswa yang memiliki kebutuhan khusus. yakni: (1) Mempunyai harapan bahwa siswa akan berhasil; (2) Memberi pengawasan yang sering pada tugas-tugas sekolah siswa serta member umpan balik; (3) Memberikan penjelasan standart-standart, arahan, dan harapan pembelajaran; (4) Fleksibel dalam mengangani siswa; (5) Mempunyai komitmen dalam memperlakukan tiap siswa secara terbuka; (6) Bersifat responsif; (7) Melakukan pendekatan tersusun dengan baik dalam pengajaran; (8) Bersikap hangat, sabar, humoris, kepada siswa.

Saran/Rekomendasi
Bagi Kepala Sekolah, hendaknya lebih memahami hakekat pendidikan untuk semua, sehingga dapat menerapkan pendidikan inklusif di sekolahnya menuju sekolah yang bermutu.
Kepada Para Pendidik yaitu hendaknya selalu memperhatikan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorang guru sekolah inklusi dalam melakukan pembelajaran di kelas dan khususnya untuk mengangani anka yang berkebutuhan khusus di kelas.
Kepada Dinas Pendidikan/Departemen Pendidikan Nasional, hendaknya menyusun program yang mengarah pada Education For All yang salah satunya adalah membuat sekolah umum menjadi sekolah yang inklusif, sehingga dapat dinikmati oleh masyarakat sekitar tanpa memandang apakah anak itu termasuk anak normal atau anak berkebutuhan khusus. Sehingga dengan memiliki program demikian, maka akan mudah mengantarkan pendidikan yang berkualitas/bermutu.

DAFTAR PUSTAKA

Abdurrahman, Mulyono. 2003. Pendiidkan bagi anak berkesulitan belajar. Jakarta: Rineka Cipta
Astuti, Idayu. 2011. Kepemimpinan Pembelajaran Sekolah Inklusi. Malang: Bayu Media.
Deklarasi Bangkok dari Konfrensi Menteri Pendidikan Asia Tenggara.2006. UNESCO Jakarta.

Hadis, Abdul. 2010. Manajemen Mutu Pendidikan. Bandung: Alfabeta

Mboi, Nafsiah. 2006. Kompendium Perjanjian, Hukum dan Peraturan Menjamin Semua Anak Memperoleh kesamaan Hak Untuk Kualitas Pendidikan dalam Cara Inklusif. Jakarta: UNESCO Jakarta

Murtadlo. 2004. Pendidikan Anak berbakat dengan teknik Inklusif dan Pendidikan Khusus. Surabaya: UNESA UNIVERSITY PRESS

Panduan Perencanaan Pendidikan Untuk Semua (PUS) tindak lanjut forum pendidikan dunia Dakar, Senegal april 2000: UNESCO

Sholeh, Muhammad. 2006. Menuju Pendidikan Inklusif. Solo: Eenet asia newsletter.

Smith, David. 2012. Sekolah Inklusif (Konsep dan Penerapan Pembelajaran). Bandung: Nuansa

Stubbs. 2002. Pendidikan Inklusif Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber. (Online) http://www.eenet.org.uk.resources (di akses pada tanggal 26 Maret 2012).

Tajuk Rencana Jogja Bangkit Kembali News Edisi 3 Juli 2007. Pendidikan Untuk Semua. (Online) http://www.jogjabangkitkembalinews.com (diakses pada tanggal 26 Maret 2012)

Undang-Undang No.20 tentang Sistem Pendidikan nasional (Sisdiknas) pasal 46 ayat1.

Undang-Undang Dasar Republik Indonesia tahun 1945 Pasal 28 C ayat 1

Yamin, Muhammad. 2009. Manajemen Mutu Kurikulum Pendidikan. Jogjakarta: DIVA press